Share This Blog

Friday, November 20, 2015

Lomba Memusikalisasi Puisi Memperingati Bulan Bahasa

Aku itu sering bingung kalau buka blog, bingung mau nulis apa hehe :v Tapi kali ini aku ada cerita nih! Jadi minggu lalu (hari Sabtu kemarin) aku ikut lomba memusikalisasi puisi bareng teman-teman sekolahku. Lomba ini diadakan untuk memperingati Bulan Bahasa, selain memusikalisasi puisi, ada lomba mading 3 dimensi dan poster. Ashira juga ikut mewakili sekolah lho! Tapi dia ikut lomba poster. Biasalah, adek-kakak jadi susah dipisahin gitu ya, hmm -_-

Karena lomba memusikalisasi puisi itu grup, aku gak sendirian dong :v Ada Lulu, Gaby, Putra, sama Oka. Eits, tahan dulu, sebelum cerita ke sana aku ceritain dulu dari awal ya hehe.

Pada awalnya, kelas aku dapat tugas praktik memusikalisasi puisi berkelompok. Nah, karena waktu itu aku lagi duduk sama Lulu, aku sekelompok aja sama dia. Ada Farhan, Bayu, dan Fadam juga. Kita dikasih 4 pilihan puisi, ada 'Pahlawan Tak DIkenal' karya Toto Sudarto Bachtiar, 'Pada Suatu Hari Nanti' karya Sapardi Djoko Damono, 'Bikin Sendiri Saja' karya Yudhistira, dan 1 lagi lupa judulnya -_-

Tadinya kita bingung gimana caranya memusikalisasi puisi. Katanya boleh pake lagu yang udah ada, atau bikin aransemen sendiri. Karena kita mikirnya aransemen sendiri kayaknya susah, kita coba pake lagu yang udah ada. Dari nada lagu 'Sudah Terlalu Lama Sendiri', 'Tetap Dalam Jiwa', 'Seberapa Pantas, sampai lagu Bee Gees yang judulnya 'How Deep Is Your Love'  gak ada yang pas sama puisinya. Yang ada malah puisi 'Pada Suatu Hari Nanti' jadi sebuah lagu yang ceria.. kacau -_-

Akhirnya kita janjian latihan hari Jum'at. Untuk itu, aku rela bawa gitar aku ke sekolah. Ternyata, oh, ternyata, yang akhirnya latihan cuma aku sama Lulu -_- Nasib banget ya. Tapi gak apa-apa kok, kita akhirnya nge-cover lagu Sheila On 7 yang 'Seberapa Pantas' dan kita masukin ke youtube :D Kita juga akhirnya memilih puisi 'Pahlawan Tak Dikenal' dan bikin aransemen sendiri.

Dua kali pertemuan pelajaran Bahasa Indonesia, selalu kita habiskan buat latihan. Pas pertemuan kedua, kita 'kan lagi latihan di depan kelas, lalu Bu Roy lewat. Lalu beliau bilang kalau ada lomba memusikalisasi puisi tanggal 14 nanti, dan beliau lagi mencari grup yang bisa mewakili sekolah. Teman-teman pun bilang ke Bu Roy kalau aku sama Lulu mengaransemen puisinya sendiri. Akhirnya, Bu Roy meminta kami buat grup yang terdiri atas (maksimal) 5 orang dan ikut seleksi siapa yang akan mewakili sekolah.

Besoknya, aku sama Lulu pun mencari anak kelas 9 yang bisa nyanyi atau main musik. Pertama-tama kita ke kelas 99, ngajak Putra karena dia bisa main gitar. Lalu kami kelas 94, ngajak Oka karena dia bisa main keyboard dan Gaby karena dia bisa pecah suara. Setelah kita jelasin maksud kami (atau sepertinya begitu -,-), jadilah sebuah grup memusikalisasi puisi yang terdiri dari anak-anak kelas 9.

Lalu kami ke aula buat ketemu sama Bu Roy dan Bu Latifah. Singkat cerita, kita diberi waktu buat latihan lalu hari Senin kami akan diseleksi. Lawan kami adalah grup yang terdiri atas anak kelas 8. Sebelum diseleksi, Bu Roy meminta untuk yang ikut memusikalisasi puisi menampilkan aransemennya di depan Bu Ratna. Karena waktu itu cuma aku sama Lulu yang tahu gimana aransemennya, kita berdua yang nampilin (aku megang gitar :v).

Kata Bu Ratna, aransemennya udah bagus tinggal diolah lagi. Habis dari ruang PKS, kami berdiskusi (baca: agak-agak ribut gitu) kapan mau latihan, karena hari itu hari Jum'at dan Senin udah diseleksi. Akhirnya (skip aja ke akhirnya ya :v), kita janjian latihan besok (Sabtu) di rumah aku jam 11.

Tapi ternyata, oh, ternyata, yang latihan cuma aku, Lulu, sama Putra. Nasib banget ya (lagi) -_- Katanya Oka sakit, sedangkan Gaby gak bisa dihubungin. Yauwes lah, daripada ribet -,- tapi kita gak sepenuhnya latihan lho, yah ada nyanyi-nyanyi juga (mumpung ada Putra wkwkwk) terus rencana mau ngecover yang akhirnya gak jadi. Yang jelas, kita latihannya juga gak jelas -_-

Walau Sabtu itu latihannya gagal, kita latihan di sekolah. Akhirnya grup kelas 9 yang mewakili sekolah, lantaran kelas 8-nya belum siap. Kita pun semakin giat berlatih (sampe izin beberapa pelajaran, atau emang karena gak ada guru :v) karena lombanya udah tinggal beberapa hari lagi.

Oh, ya, ada juga teman-teman yang datang nonton kita latihan :v katanya sih penonton bayaran wkwkwk. Dengan ada yang nonton, jadi gak begitu gugup. Yah begitulah hehehe

Hari-H nya, kita janjian ngumpul di depan Indomaret paling lambat setengah 7. Aku dan Ashira udah di sana dari jam 6 kurang karena kita kerajinan -_- Walau Putra telat, kita sampai di SMPN 2 pagi (malah masih sepi).

Untuk mading dan poster, lombanya mulai pagi. Sedangkan untuk memusikalisasi puisi, kita nomor urut 47 (keenam dari terakhir) jadi bisa dikatakan, kita masih lama dan bisa sampe sore. 

Karena masih terlalu pagi, ruang musikalisasi puisi pun masih kosong. Hanya ada kami, dan penata acara atau apalah :v Untuk mengisi waktu, kita ngobrol, bercanda, foto-foto, dengerin lagu, update status, baca buku, makan, ketawa, berkedip, bernafas, yang jelas kita menunggu dengan sabar :3

Ketika lomba memusikalisasi puisi dimulai, saat itu ruangan sudah tidak kosong lagi. Penuh, banyak orang, sampai-sampai ac gak kerasa. Gerah banget!

Kita menonton satu persatu grup menampilkan musikalisasi mereka. Beraneka ragam. Ada yang ngerap, ada yang nyinden, ada yang pop, ada yang pakai biola, ada yang pake gitar, ada yang keyboard, ada yang pake ketiganya, ada bagus, ada yang biasa aja, ada yang enggak biasa, ada yang kurang bagus, ada yang bagus suaranya, ada yang kurang atau fals. Macam-macam!

Waktu menunjukkan jam 12 siang, dan baru sampai nomor urut 20. Ya ampun, lama banget ya :v Kita pun makan untuk mengisi perut. Menunya fried chicken, tapi entah kenapa, aku gak nafsu makan.. jadinya aku gak makan :( enggak kayak yang lain, yang kayaknya menikmati banget ya. Apalagi Oka, yah, katanya sih dia belum makan :v

Sehabis shalat dzuhur, acara kembali dilanjutkan. Dan Bu Ratna datang, yeay! Katanya beliau ingin mengecek suara kami, jadi setelah Putra dan Oka kembali ke ruangan, kami mencari kelas kosong dan berlatih.

Sehabis latihan, kami menunggu di luar dekat taman. Sudah sore, dan dalam ruang musikalisasi puisi sedang tampil nomor urut 45, grup kedua SMP Mardiyuana. Dengerin dari luar aja, mereka udah keren banget :v Yah wajar aja sih, karena katanya mereka udah biasa memusikalisasi puisi.

Mardiyuana pun hampir selesai, dan drama pun dimulai. Nomor urut 46 dipanggil, dan gitar yang akan kami pakai jatuh dan stemannya pun berubah. Putra pun buru-buru menyetem gitar tersebut. Aku dan Oka yang sedang menggotong keyboard menunggu depan pintu ruangan. Sedangkan Putra dan yang lain masih di dekat taman, panik karena gitarnya jatuh. Nomor 46 tak kunjung-kunjung datang, dalam hitungan 10 detik mereka pun dinyatakan gugur. Saat kami tampil pun tiba. Putra, Gaby, dan Lulu datang tepat waktu. Kami langsung masuk sesaat setelah nomor kami dipanggil. Nyaris sekali! 

Jujur, aku deg-degan banget. Aku belum pernah tampil di hadapan begitu banyak orang tak dikenal. Untung ada Lulu, Gaby, dan yang lain, jadi gugupnya gak begitu terasa. Oh, ya, tangan aku dingin loh. Aku takut banget ada salah :(

Setelah persiapan selesai, the shows is on! Diiringi alunan gitar dan keyboard, Lulu masuk sambil membacakan 1 bait puisi 'Pahlawan Tak Dikenal' lalu setelah itu kami pun mulai bernyanyi. Outro lalu kami membungkuk dan penampilan kami pun selesai! Banyak yang bertepuk tangan. Dalam hati aku berharap bahwa kami telah tampil maksimal.

Setelah turun panggung, kami disambut Bu Roy, Bu Latifah dan Bu Ratna. Mereka memuji bahwa kita berhasil tampil sesuai harapan. Alhamdulillah ya!

Karena pengumumannya masih nanti malam, kami pulang duluan. Dalam hati kita berdoa kalau kita bisa menang. Dalam perjalanan pulang, aku, Lulu, dan Gaby menonton rekaman penampilan kami di tab aku. Yah, lumayanlah :v

Sayangnya kami tidak menang :( aku tahu setelah mengomentari pm-nya Audri yang ikut mading. Nyeseknya lagi, ketika upacara hari Senin, Paskib dan Pramuka berhasil membawa piala (mereka juga lomba). Karena aku jadi pemimpin kelas 9, aku bisa melihat wajah kecewa Lulu dari kejauhan (dia jadi dirijen :v).

Yah, jujur, aku juga kecewa. Kita udah mengorbankan waktu dan tenaga, kita juga udah izin beberapa pelajaran. Mungkin bukan hari keberuntungan kita, tetapi kita dapat pengalaman berharga. Pengalaman yang gak bisa terulang kembali, lho :D Lagipula kekalahan bukan akhir segala-galanya bukan? Intinya semua hal itu ada hikmahya #mendadakbijak :v Kapan lagi bisa kayak gini?