Share This Blog

Saturday, April 12, 2014

Lomba Story Telling Se-kota Depok

"Once upon a time, in the north coast of Sumatra, lived a poor woman and his son...," aku latihan untuk lomba story telling diruang BK, tak lupa disertai dengan gerakan yang 'heboh' mendukung cerita yang kubawakan (gak terlalu, sih, habis malu). Lalu setelah selesai giliranku, waktunya Kak Ivana untuk latihan story telling didepan Bu Uswatun, pembimbing kami.

Beberapa hari yang lalu, aku ikut seleksi lomba story telling untuk mewakili sekolah. I'm lucky because aku terseleksi bersama Kak Ivana untuk mewakili sekolahku. Tapi sayangnya, teman sekelasku yang juga direkomendasi oleh guru bahasa Inggris-ku (sama sepertiku) untuk ikut seleksi tidak lolos karena ketentuan dari sekolahnya adalah dua wakil sekolah.

Tema lomba story tellingnya adalah 'legenda'. Aku memilih legenda tentang Malin Kundang sedangkan Kak Ivana memilih legenda tentang Tangkuban Perahu. Setiap hari kami berlatih bersungguh-sungguh, membuat propertinya (Kak Ivana bikin perahu buat ditendang), sampai akhirnya kami sudah menguasai cerita dengan matang dan besoknya akan lomba.

Saat itu aku sudah sangat PD, sudah yakin, walaupun tidak menang aku yakin bakal masuk final. Yah, itu pemikiranku.

"Kamu udah hapalin naskah cerita internasionalnya? Cerita internasionalnya buat babak penyisihan sedangkan yang nasional buat babak final." kata seorang guru bahasa Inggris di sekolahku (tidak mengajar kelasku) sewaktu istirahat. Aku langsung menganga. Mana kutahu ada cerita internasionalnya, hapal juga tidak!

Berita itu mendadak itu membuat aku, Kak Ivana, dan Bu Uswatun kaget. Wah, kami sama sekali belum siap!

Akhirnya aku dan Kak Ivana harus mencari bahan cerita di warnet Kak Ivana yang letaknya tak begitu jauh. Kami pun tidak belajar alias membolos yang sama sekali tidak pernah terpikirkan, lalu angkat kaki ke rumah Kak Ivana.

Aku memilih cerita Sleeping Beauty, sedangkan Kak Ivana memilih cerita Snow White. Setelah selesai, kami kembali ke sekolah lalu mulai menghapal. Kami selesai agak telat dari waktu jam pulang sekolah yang membuatku ditinggal jemputan. Aduh, betapa buruknya hariku. Udah mendadak harus menghapal cerita, gak belajar, ditinggal jemputan, uang habis, dan ojek juga tidak ada! Akhirnya aku terpaksa meminjam uang ke Syahla 2.000 buat naik angkot.

Ketika dirumah, aku berlatih dan menghapal keras ceritanya. Aku ingin menang, apalagi mamaku sudah menyewakan baju adat Minangkabau yang lumayan mahal. Kalau tidak lolos babak final, wah apa kata dunia?

Lalu malamnya aku mendapat pesan dari Kak Ivana kalau besok aku datang ke sekolah pukul setengah enam, buat latihan dan lomba dimulai jam delapan pagi. Aku pun buru-buru tidur karena sudah sangat ngantuk.

Besoknya aku bangun pagi-pagi, kasat-kusut pake baju dress coklat bercorak batik, dan memasukan baju adat kedalam tas karena siapa tahu masuk final?

Aku berangkat diantar papi pagi sekali. Sampai disekolah tepat pukul setengah enam dan belum ada siapa-siapa. Aku meminta papi buat nunggu aku sampai Kak Ivana datang tapi sampai jam enam kurang kakak cantik itu belum tampak juga. Wah, kemana ya?

Lalu datanglah seorang kakak, tapi bukan Kak Ivana melainkan kakak kelas yang dulu mewakili sekolah lomba story telling. Tapi yang kuheranin, aku dan Kak Ivana bikin janji sama kakak kelas perempuan (tapi bukan yang mewakili sekolah lomba story telling tapi lomba mendongeng bahasa Sunda) bukan sama kakak kelas laki-laki yang dulu mewakili sekolah story telling. Memangnya diubah janjinya, ya?

Aduh, Kak Ivana kemana, sih? Aku semakin khawatir apalagi ketika papi meninggalkanku sendirian. Tapi akhirnya Kak Ivana datang juga sekitar jam enam lewat memakai gaun putih dan tampil cantik sekali.

"Aduh, propertiku kutinggal di kelas. Sekolahnya digembok." Lalu kami meminta kunci gembok sama Pak Satpam yang rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolah. Setelah Kak Ivana mengambil propertinya kami latihan di kelas 76 bersama kakak kelas, yang bernama Kak Fiqih. Ternyata kakak perempuan yang kami minta tidak bisa datang jadi, ya, tidak apa-apa.

Kami latihan sampai pukul setengah delapan. Karena baru sehari menghapal cerita internasionalnya, aku sering mengulang-ngulang kalimat yang sama lalu kurang eskpresif karena gugup. Menurutku Kak Ivana jauh lebih hapal dibanding aku karena dia tidak begitu sering mengulang kata. Ketika latihan pun, suaraku sering mendadak serak yang menandakan kalau suaraku mau habis. Haduuh... -_-

Ketika latihan selesai, ternyata diluar hujan! Ya, hujan. Sebuah fenomena yang tidak terpikirkan sebelumnya, kami pun terpaksa menunggu sampai mobil Kak Ivana datang menjemput. Seperti awal kesekepakatan, aku berangkat bareng dengan Kak Ivana karena tidak ada yang bisa mengantarku (Papi harus ujian soalnya).

Setelah mobilnya datang, kami berterima kasih sama Kak Fiqih atas bimbingannya lalu naik mobil. Sebelum ke lokasi lombanya, yaitu di SMPN 4 Depok, kami ke rumah Kak Ivana dulu buat menjemput keluarga Kak Ivana dan teman-teman kakaknya. Habis itu baru deh cabut!

Aku berterima kasih kepada Tuhan karena perjalanannya tidak macet, dan tidak terlalu terlambat sampai di SMPN 4. Sesampainya disana, kami mengambil undian nomor peserta kami dan ternyata aku dan Kak Ivana beda ruangan! Aku di ruang E dan mendapat giliran ke 5 sedangkan Kak Ivana mendapat ruang G dengan nomor urut pertama. Huwaa, yang jelas kami benar-benar merasa deg-degan tapi untungnya ada ibu Kak Ivana yang menemani kami.

Setelah upacara pembukaan selesai, aku dan Kak Ivana berpisah. Aku pergi menuju ruanganku, yaitu ruang E. Disana kira-kira ada sekitar 15 peserta, dan salah satunya berasal dari SMPN 02 Depok, sekolah menengah pertama terfavorit di Depok. Jujur saja, aku sangat kagum apalagi sepertinya persiapannnya sangat matang.

Ketika para juri sudah memasuki ruangan, kami diberi pengarahan terdahulu. Batas waktu yang kami miliki untuk bercerita adalah 6 menit, sedangkan untuk persiapannya 4 menit. Dalam hati, aku gugup sekali apalagi lombanya sudah dimulai!

Peserta pertama, bercerita tentang Pororo dan Poby yang mau camping. Awalnya dia ikut bernyanyi lagu kartun kesukaan adikku itu. Pada dasarnya, itu tidak aneh 'kan itu kreativitas mereka.

Perlahan-lahan setiap peserta tampil sampai akhirnya giliranku! Aku gugup sekali, badanku gemetaran hebat, yang jelas susah dirangkai dengan kata-kata tapi yang pasti aku GUGUP! Aku pun mulai membawakan ceritaku setelah penyambutan.

"Once upon a time, in a far far away kingdom, there lived a good king and his queen. They had no children for many years, and were very sad. Until on day, the queen gave birth a lovely baby girl and the...," aku bercerita didepan dengan tubuh gemetaran. Aku sangat gugup, tapi aku tidak boleh lupa untuk tersenyum (bukan senyum pepsodent lho...). Aku meniru suara nenek-nenek ketika penyihir tua mengutuk sang putri, lalu meniru suara peri baik (bayangkan sajalah sendiri suaranya seperti apa) lalu suara sang putri, dan pangeran, dan lain-lain. Aku ingat sekali, ketika aku menceritakan ketika sang putri menyentuh jarum pemintal lalu terjatuh ke tanah dalam keadaan tertidur, aku sengaja menjatuhkan diri yang membuat peserta lainnya kaget. Nah, ketika terjatuh aku seharusnya mengatakan, "in a deep slumber." tapi karena gugup aku lupa dan mengulang-ngulang kalimatnya. Huwaa, itu gara-gara aku sangat gugup, sampai-sampai tidak bisa berhenti gemetaran T_T

Setelah penampilanku selesai, aku menunggu sampai semua peserta lainnya tampil seraya memakan makanan yang sudah disiapkan panitia. Menurutku banyak yang penampilannya bagus, dan adapula yang kurang. Yang favoritku adalah seorang peserta perempuan yang menceritakan tentang Red Riding Hood dengan aksen Inggris, dan peserta dari SMPN 2 yang menceritakan tentang Putri Kaguya dan benar saja, penampilannya matang sekali tapi sayang aku lupa namanya.

Setelah semua peserta tampil, kita beristirahat sambil menunggu pengumuman para finalis. Aku dan Kak Ivana pun berkumpul lagi. Kami pergi ke kantin lalu memesan makanan. Ketika sedang enak-enaknya makan, panitia mengumumankan para finalisnya! Dan ternyata, jeng...jeng...jeng, namaku dan nama Kak Ivana tidak masuk final! Kecewa, sih, kecewa banget, tapi bagaimana lagi?

Setelah puas foto-foto (hehehe), mengambil sertifikat, kami pulang dengan taxi. Jujur saja, aku kecewa sekali apalagi aku jarang ikut lomba. Paling-paling cuma lomba menggambar sewaktu SD, itupun sudah agak lupa. Hm, aku memang sering ikut lomba yang mama ikutin, tapi kalau sekolah jarang. Aku kecewa sekali, karena tidak memakai baju adat yang sudah disewakan mamaku. Paling tidak, kalu tidak menang, masuk final gitu biar bajunya dipakai, hehehe.... Tapi kata orangtuaku tidak apa-apa karena aku sudah mendapat sebuah pengalaman yang berharga. Toh, kata teman-teman paling juga tahun depan masih bisa ikut lagi.

2 comments:

Farrah Farvilia said...

Emgnya ngewakilin sekolah apa ?

Asyah Day said...

Farrah Farvilia: SMP 10