Share This Blog

Monday, March 17, 2014

Pengalaman Camping Yang Pertama

Pada hari Jum'at dan Sabtu kemarin aku mengikuti acara camping untuk kelas 7 yang diadakan oleh sekolahku. Acara camping ini diadakan di Rumah Kebon, Cinangka-Sawangan, Depok. Satu hal yang membuatku senang, karena tempatnya tidak jauh dari rumahku dan aku bisa kesana cukup dengan berjalan kaki, yah, walaupun aku tetap dianterin sama Papi kesana karena barang bawaan yang serba berat, serba ribet, dan bikin pundak pegel-pegel.

Ketika hari Jum'at, sepulang sekolah, aku segera memasukan barang-barang yang belum kumasukan semalam. Ya, aku sudah menyiapkan barang-barang sejak semalam. Karena tas sekolahku kecil, aku meminjam tas travelling Papi yang sizenya lumayan besar. Yah, walaupun tasnya tampak sudah kepenuhan barang aku tetap memakainya karena tidak ada pilihan lain.

Setelah mandi, lalu berpakaian pramuka lengkap (enggak lengkap banget sih, cuma kurang peluitnya) aku makan siang untuk mengisi perutku. Karena waktu yang ditetapkan oleh sekolah jam 2 siang sudah ada disana, ketika jam setengah 2 aku berangkat diantar Papi naik motor sambil membawa tas dan dua buah tongkat pramuka.

Sampai disana, ternyata sudah ada Cazel, Annida, Mima, dan kawan-kawan. Setelah pamit sama Papi, aku segera menaruh barang-barangku di salah satu pojok lalu segera registrasi sama Kakak Pembinanya (aku lupa namanya). Setelah mendapat kartu peserta, aku memasang bendera reguku, Edelweiss 71, ditongkat. Tak lama kemudian terdengar bunyi peluit Kak Syarif yang memanggil para ketua regu. Aku segera kesana sambil membawa bendera. Ternyata pembagian tenda bagi yang belum punya lalu memesan kepada Bu Sari, salah satu guru disekolahku sekaligus panitia acara camping. Kalau soal tenda, reguku sudah menyewa dengan seorang saudara anggotaku yang kebetulan menjual dan menyewakan tenda. Nah, temanku bilang kalau tendanya sudah dititipkan kepada Kak Syarif, maka aku menunggu sampai akhirnya giliran nama reguku dipanggil.

Setelah mendapat tenda, aku segera membawa tenda beserta perlengkapannya seperti tambang dan tongkat ke tempat mendirikan tenda. Lalu kami pun mendirikan tenda dengan bantuan kakak-kakak pembinanya. Setelah selesai mendirikan tenda, kami segera sholat ashar lalu baru apel pembukaan camping. Seusai itu kami sholat maghrib dan isyha berjamaah di musholla.

Baru setelah itu kami diperbolehkan masak dan makan. Walau belum kegiatan, kami sangat capek. Apalagi ketika mendirikan tenda. Susah sekali, maksudku salah langkah terus sehingga harus mengulang-ngulang lagi. Belum lagi panas terik matahari yang begitu menyengat walau saat itu sudah sore. Saat itu teman-teman sudah hampir putus asa, dan ingin menangis apalagi ketika melihat regu-regu lain yang sudah selesai, rapih, dan sedang beristirahat. Untung saja ada kakak pembina yang datang lalu mengajari kami memasang tendanya.

Oh, ya, jangan kira ketika kalian membaca postingan ini mengira aku santai-santai aja sebagai ketua regu. Tidak sama sekali! Aku bolak balik gak keruan dipanggil oleh kakak pembina sehingga tidak melepas sepatu ketika masuk tenda, selalu stand by senter, SKU, buku catatan kecil, pulpen, dan bendera regu. Aku ingat, ketika masakan sudah jadi dan hendak makan... bunyi peluit ketua regu dipanggil. Huh, kesalnya bukan main. Padahal sendoknya udah ada diujung lidah, terus perutnya lagi keroncongan, dan harum masakan nasi goreng ala Mita yang membuat air liur menetes... hah... Terpaksa aku langsung memakannya tanpa merasakan kelezatan ditiap kunyahannya (?).

Ketika sesi piknik, makan-minum, ngobrol, ketawa haha-hihinya selesai, waktunya kita latihan untuk persiapan pentas seni ketika acara api unggun. Setiap regu diwajibkan untuk membuat yel-yelnya sendiri. Kami pun berlatih ditemani pianika temanku, Aufa. Aku ingat sekali bunyi yel-yelnya:

(nada lagu Garuda Didadaku)
Pramuka dihatiku,
Tjuh satu kebanggaanku,
Regu Edelweiss nomor satu, 
Yang ku mau!

(nada lagu Anak Kambing Saya)
Permisi, permisi,
Kami mau pramuka
Inilah kami dari regu Edelweiss,
Permisi, permisi
Kami mau pramuka
Inilah kami dari regu Edelweiss,
Reff:
Regu Edelweiss, hey, hey
Regu Edelweiss, hey, hey
Regu Edelweiss
Regu yang nomor satu
Repeat reff

(nge-rap, beybeeh!)
Inilah salam-salam,
salam dari kami regu Edelweiss
Inilah salam-salam,
salam dari kami regu Edelweiss
We're fungky, yo, yo,
Latihan, yo, yo,
Pramuka, yo, yo,
Inilah salam-salam,
Salam dari kami regu Edelweiss
(Asyah) 
Kami, kami dari tjuh satu,
Regu Edelweiss yang paling okee,
Kami ingin camping,
Maka sambutlah,
Regu Edelweiss yang paling kecee,
(semuanya)
Yo, yo, yo, yo
Ada Asyah, yo
Ada Syahla, yo
Ada Mita, yo
Ada Valin, yo
Ada Filzah, yo
Ada Aufa, yo
Ada Enur, yo
Ada Widi, yo
Ada semua!

Kami pun menyanyikan yel-yelnya sama persis ketika acara api unggun. Ketika acara tersebut, banyak diselingi atraksi-atraksi dari kakak-kakak pembinanya yang lumayan humoris. Setelah acara tersebut berakhir, kami renungan malam hingga jam satu malam. Lalu baru tidur.

Yah, tapi kenyataannya enggak ada yang tidur. Well, ada beberapa yang tidur tapi terbangun gara-gara anak laki-laki yang bandel teriak-teriak bangunin yang perempuan kalau udah waktunya jurit malam. Gara-gara itu, kakak pembinanya turun tangan alias marah-marah kenapa belum tidur lalu dipaksa tidur, dan diawasi. Dan kalau ada yang berani atau nekad ngelawan, yah, tahulah nasibnya sendiri :p

Aku tertidur pulas, sampai akhirnya tiba-tiba terbangun. Aku terjaga beberapa menit, lalu tiba-tiba ada kakak pembina yang teriak-teriak bangunin kita semua untuk jurit malam. Aku pun segera membangunkan teman-teman yang lain yang langsung panik karena disuruh berganti pakaian menjadi pakaian lengkap pramuka dalam sepuluh detik. Ya, mereka panik karena udah ganti baju bebas seutuhnya sedangkan aku malah masak pop mie-ku dengan santai karena, yah, masih berpakaian pramuka lengkap :p Bagaimana ya? aku sama sekali tidak melepas atribut sama sekali. Aku tidur? pakai kaus kaki sepatu. Bagaimana dengan topi? masih bertengger diatas kepalaku. Dasi, kartu peserta, SKU, buku catatan, dan lain-lain semuanya ada. Kenapa? Takutnya pas lagi tidur nyenyak gitu dipanggil, hehe...

Ketika keluar tenda, ternyata masih gelap. Ku-cek HP ku ternyata masih jam 2. Hah? jam dua kukira udah jam 4 atau 5 gitu, ternyata masih jam 2. Wah, ternyata aku cuma tidur sejam-setengah jam, sobat!

Kembali ke cerita...

Setelah siap, kami ke lapangan lalu diberi misi (cielah) atau tugas untuk jurit malam. Sebenarnya tidak bisa dibilang jurit malam, sih, soalnya cuma keliling-keliling gitu nyari kakak pembina dan tidak satu regu saja, banyak! Aku bersama sebelas regu, jadi untuk apa takut? Aku, sih, gak takut tapi teman-temanku yang takut apalagi ketika mereka ngaku mencium bau melati... Ngapain takut? Kita lagi jalan didaerah kebun bunga, disebelah ada pohon melati terus disekelilingin ada banyak orang. Itu juga bukan jurit malam, cuma kayak belajar materi dalam kegelapan, hehe. Aku juga kurang memperhatikan, sih, soalnya aku setengah tertidur.

Setelah jurit, eh ralat, jalan malam maksudku, kami sholat subuh berjamaah di musholla. Lalu mandi. Enggak mandi, sih, cuma modal cuci muka gosok gigi buang air aja. Terus pakai wewangian, pake handbody, pake rexona, pake bedak, pake minyak telon, terus dandan, fresh dalam seketika 'kan? Kami langsung berganti pakaian menjadi pakaian olahraga. Lalu berolahraga di lapangan. Setelah itu berganti pakaian lagi jadi pakaian pramuka seperti yang disuruh kakak pembina. Sebenarnya banyak anak yang gak setuju dengan alasan "bau, kak.", "basah, kak.", "gak nyaman, kak.", dan alasan lainnya. Tapi jika kakak pembina sudah berkata, ya sudah, mau bagaimna lagi walaupun bau baju pramukanya sudah bau semerbak, hmm, asem.

Seseusai berganti pakaian, kita semua sarapan. Ketika ingin masak menu andalan disaat bumbu abis, yaitu mie, ada pengumuman dari kak Syokowi kalau kita dapat jatah makan, horee! Ternyata kita mendapat nasi bungkus. Ketika didalam tenda dan jatah sudah dibagikan, teman-teman menebak apa isi dalam nasi bungkus itu.

"Ayam, ayam." tebak Mita, anak-anak lain juga bersependapat. Dan ketika dibuka, taraa~, ternyata telur balado, bihun goreng, dan kerupuk. Walau sederhana, teman-teman menghabiskan makanan dengan lahap, maklum, lapar.

Setelah sesi lapar-lapar, makan, kenyang, kita ke lapangan lagi untuk latihan baris berbaris dengan tongkat sekaligus pengambilan nilai. Sehabis itu baru deh siap-siap pulang. Sebenarnya, kita harus apel penutupan dulu sekaligus pembagian piala bagi regu putra putri tergiat. Tapi, karena banyak yang sudah capek dan kabur duluan kita gak apel penutupan. Ya, gimana mau apel penutupan kalau anak yang masih ada tinggal sedikit?

Jadi aku menunggu sampai Papi menjemput. Setelah dirumah aku mandi sebersih mungkin lalu tertidur pulas. Dan akhirnya pembagian piala pun ditunda sampai hari Senin. Dan ternyata regu Edelweiss 71 mendapat juara ke dua regu putri tergiat, horee!

2 comments:

Tata Wanita said...

Kak Asyah, ini Aku Tata masih inget?

Asyah Day said...

Iya, masih inget :)