Share This Blog

Tuesday, November 26, 2013

What Was Missing?

Once upon a time, live a girl. She not pretty, but she's not ugly too. She's smart, but not too smart. She's kind, but sometimes she can be angry. She's just an ordinary girl who has a dream she wants to accomplish.

At school, she have many friends. Most of her friends, likes her. But, there also friends who don't like her with many reasons. And one of her friend who don't like her is someone unexpected, her own best friend! But, although she knew it, she just ignore it.

According to her friends, she is a strange girl. She likes something that her friends don't like, and she don't like something that her friends like. But even so, her friends still like her.

She always doubting herself. She always felt not sure with herself, like there was something missing from her, something that always jammed her heart. But, she don't know what it is.

And that's why she always looking for what's missing from her. And she will never stop until she finds what is missing from her, and become the girl that she want.

By : S.Asyah.S.Day

Critic and suggestion, please :) Hope you all like it, thanks.

Pesan Yang Tak Tersampaikan : Cerita Dari Brian

“Celia... celia... bangun.” Aku menguncang-guncang tubuh kecil adik perempuanku, Celia yang sedang tidur terlelap.

Ah, percuma. Mau berapa kali pun aku guncang-guncang badannya, dia tidak akan bangun. Dasar Celia...

Tiba-tiba sebuah ide nakal terlintas di benakku, aku langsung pergi keluar lalu mengambil barang yang kubutuhkan.

**

Aku menatap adikku dengan geli. Sedari tadi, dia merenggut terus. Aku tahu, dia pasti jengkel terhadapku, karena menyiramnya dengan air sedingin es.

“APA-APAAN INI?!” teriak Celia setelah kesadarannya pulih. Tubuhnya basah kuyup, begitu juga dengan ranjangnya. Aku yang berdiri dekat ranjangnya hanya bisa nyengir kuda ketika Celia memandangku dengan galak.

“Pagi, Celia. Hari yang indah, ya?” tanyaku sambil cengengesan. Habis mau gimana lagi, Celia kan susah sekali kalau dibangunkan.

“KELUAR!!” bentaknya sambil menunjuk-nunjuk diriku. Dengan paksa, aku diseret keluar pintu oleh Celia lalu dia membanting pintu persis di depan batang hidungku. Setelah itu, aku tak tahu apa yang dilakukan Celia di dalam.

“Bu, kak Brian menyiramku dengan air dingin.” Adu Celia ketika sarapan. Aku hanya terdiam, sambil mengangkat alis ketika ibu menatapku.

“Selesaikanlah urusanmu, dengan kakakmu itu, Celia,” jawab ibu tak mau tahu urusan. Ayah pun begitu, dia terus asyik membaca koran harian miliknya.

Celia semakin cemberut. Pasti dia jengkel sekali, pikirku.

Aku senang sekali jika melihat Celia merengut, atau cemberut. Lucu. Itu yang sering sekali membuatku senang mengodanya. Aku juga senang, jika melihat Celia tertawa. Rasanya aku ingin ikut tertawa bersamanya, tapi sayangnya Celia jarang-jarang tertawa, atau tersenyum habisnya dia mudah sekali tersinggung, sih. Hah...

Aku sangat sayang kepada Celia. Dia adalah adikku satu-satunya. Kerena itu aku ingin menjadi seorang kakak yang baik dan menyenangkan bagi Celia. Aku tidak suka jika ada temannya yang jahil, atau ada anak memusuhinya tanpa alasan. Aku selalu menjaga Celia dan membuatnya senang.

Aku bahagia sekali, dapat satu sekolah dengan Celia di SMP Harapan Nusa Indah, walau hanya setahun sekolah bersama-sama. Ya, seperti yang kau lihat, aku sayang sekali dengan adikku.

“Segar, Celia?” godaku sambil tersenyum ketika dalam perjalanan menuju sekolah. Celia merengut sambil menghentak-hentakan kakinya. Lucu.

Aku tertawa lalu mengusap-ngusap kepalanya. Tapi, tiba-tiba saja Celia menepis tanganku. “Celia? Ada apa?” tanyaku bingung. Setahuku Celia sangat senang jika kuusap-usap kepalanya. “Sudah, dong jangan marah.”

“Aku benci kakak!” ucap Celia tiba-tiba. Aku langsung terdiam. Celia, Celia, benci kepadaku? “Untuk apa sih, tadi kakak menyiramku?” tanyanya marah.

“Ayolah, itu kan sudah berlalu,” ucapku memelas. Celia membuang muka.

“Aku tak mau bicara dengan kakak, aku benci kakak!” kata Celia ketus. Lalu dia mempercepat laju jalannya, aku mengikutinya.

“Hah?”

“AKU BENCI KAKAK!” teriak Celia kencang lalu langsung berlari masuk sekolah meninggalkan aku sendirian...

Celia, benci denganku... sepertinya aku gagal sebagai kakak....

**

Aku terus melamun selama pelajaran. Aku sama sekali tidak memperhatikan pelajaran yang diberikan pak Sofyan, guru matematika.

“Brian Agung Laksono!” panggil pak Sofyan. Aku langsung berdiri, sambil menunjuk tangan. Lamunanku langsung buyar. “ Saya, pak.”

“Brian, tolong kamu kerjakan uji kompetensi 11, no.4 di papan tulis!” perintah pak Sofyan. Aku mengangguk lalu pergi ke depan, mengerjakan perintah pak Sofyan di papan tulis sambil berusaha konsentrasi.

“Tadi, kau kenapa? Sepertinya kaget sekali pas pak Sofyan manggil kamu,” kata Zulhan ketika istirahat.

“Ah, tidak. Tadi cuma...” bicaraku terhenti ketika sampai di koridor. Tanpa sengaja, aku bertemu Celia bersama salah satu teman dekatnya, Graice.

Dia memandangku sekilas, lalu berjalan melewatiku tanpa bicara. Temannya mengikutinya dari belakang sambil memandangku. Aku terdiam.

“Hah...” kataku setelah aku merasa Celia sudah jauh. “Seperti yang kau lihat, aku bertengkar dengan adikku, Han.” Ceritaku kepada Zulhan. Dia mengangguk-angguk.

“Kapan?” tanyanya.

“Barusan, jadi belum maafan,” lanjutku sambil menghembuskan nafas.

“Kalau begitu, harusnya kau minta maaf tadi,” kata Zulhan sambil tersenyum.

“Hah? Di depan temannya? Tidak!” kataku. “Lagipula, dia yang mulai duluan.” Lalu kuceritakan kejadian tadi pagi.

“Wah, kalau itu sih, kau yang salah. Untuk apa kau siram dia? Pasti dia jengkel sekali,” kata Zulhan sambil tertawa. Aku memandangnya tidak suka, tapi Zulhan benar juga sih. Jika aku tidak menyiram Celia, pasti kita tahkan bertengkar. Aku sudah kelewatan...

“Ya, deh, ya, deh nanti pulang sekolah,” kataku akhirnya. Zulhan tersenyum sambil mengangkat alisnya. “Apaan sih?” kataku.

**

Yah, kelas 7-2 belum pulang, pikirku ketika mengintip kelas 7-2 dengan diam-diam. Di dalam masih ada bu Dewi yang mengajar bahasa Inggris.

Jadi, dari pada aku nongkrong di depan kelas 7-2, dan diperhatikan adik kelas, aku pergi ke sebuah toko boneka di Jalan Mawar VI yang letaknya tak jauh dari sekolah.

Banyak sekali boneka lucu-lucu terpajang di toko itu. Ada boneka teddy bear, princess, binatang, dan masih banyak lagi.

Setelah menemukan sebuah boneka yang cocok untuk Celia, aku membayarnya lalu memasukkannya ke dalam tas.

Hatiku riang sekali rasanya, pasti Celia menyukai boneka teddy bear berwarna pink yang kubeli ini.

Sambil bersiul-siul aku pergi keluar toko. Aku melihat banyak anak kelas 7 sudah pulang, pasti Celia juga sudah pulang. Maka aku beranjak pergi dari toko, untungnya letak sekolah tidak jauh dari toko.

Tapi karena letak sekolahnya berlawanan arah dengan toko boneka itu, aku harus menyebrang jalan terlebih dahulu.

Setelah aku merasa jalanan sudah aman dari kendaraan, aku berjalan menyebrang jalan. Ketika baru setengah jalan, tiba-tiba sebuah motor muncul dari tikungan dengan kecepatan tinggi. Dan akhirnya ....

**

Aku membuka kelopak mata dengan perlahan, ugh.. rasanya berat sekali. Samar-samar, aku melihat wajah Celia. Dia memelukku.

“Ce...lia...” ucapku lemah, aku berusaha mengapai wajah Celia, aku ingin menyentuh pipinya yang bersimbah air mata. Tapi, tidak bisa, badanku terlalu lemah.

“Saya tinggal sebentar, ada keperluan..” Aku mendengar dokter itu berkata kepada orangtuaku. Aku ingin melihat wajah orangtuaku, tapi rasanya sulit sekali. Kepalaku pening sekali.

“Kak Brian... kakak baik-baik saja?” isak Celia sambil menatapku dengan cemas. Aku tersenyum, air mataku keluar sedikit.

“Seper...tinya ...begi..tu,” jawabku seraya menatap Celia dengan penuh rasa sayang.

“Kak, aku minta maaf. Aku yang salah, seharusnya aku enggak marah sama kakak,” kata Celia sambil menangis sejadi-jadinya. “Aku... sayang kakak...”

Hatiku terasa bahagia. Celia, Celia, sayang kepadaku...!

“Aku... jug... akh!” Tiba-tiba saja kepalaku terasa sakit, padahal aku ingin Celia tahu kalau aku sayang sekali kepadanya.

“Sa...kit...!!” keluhku sambil memegangi kepalaku. Ugh.. kenapa tiba-tiba?

“Kakak, kakak tidak kenapa-kenapa?” tanya Celia cemas. Rasanya aku ingin menangis, aku tak mau Celia cemas.

“Kakak... kakak...” air mata Celia mengalir deras, ada beberapa yang jatuh membasahi wajahku.

“Celia... aku minta... maaf...” ucapku dengan lemah. “Aku...” Aku tidak bisa melanjutkan bicaraku. Aku tidak bisa menyampaikan rasa sayangku kepada adikku, perasaan bahagia mempunyai adik seperti Celia. Kenapa, harus sekarang? Aku masih ingin bermain dengan Celia. Aku belum puas bercanda dengannya. Jangan, kumohon, jangan sekarang...

Aku yang lemah sambil terbatuk-batuk, melihat Celia menyingkir sambil menangis. Lalu datanglah dokter dan asistennya, mereka langsung berusaha menyelamatkanku, berusaha membuatku tetap hidup, tapi tubuhku terasa lemah sekali... Aku tidak sanggup walau aku ingin terus hidup...

Aku mengerakkan kepalaku perlahan, aku melihat Celia digiring keluar ayah yang tegar, ada ibu juga yang menangis. Entah kenapa, aku merasa bersalah..

Celia menoleh kebelakang memandangku, matanya penuh dengan air mata. Aku tersenyum sambil menangis juga karena aku tahu inilah saat terakhir bersama adikku...

**

Aku duduk di sebelah Celia, yang sekarang sudah mulai besar. Dia sedang meratapi foto lamaku dengan sedih. Celia...

Hari ini tanggal 27 Mei, hari ulang tahunku. Entah kenapa, hatiku rasanya bahagia sekali. Celia behasil lulus SMP dengan nilai luar biasa dan mendapat beasiswa SMA di London. Aku senang, setidaknya cita-citaku tercapai, walau Celia yang menikmatinya.

Hari ini juga hari terakhir aku mengawasi Celia. Esok hari, aku akan pergi untuk selama-lamanya karena Celia sudah mulai ikhlas dengan kepergianku. Itu bagus, jadi dia tidak terus-menerus sedih.

Aku juga sudah rela meninggalkan adik perempuanku yang kusayangi. Beberapa hari yang lalu, aku baru sadar, seharusnya aku bersyukur mempunyai adik seperti Celia. Waktuku bersama Celia sudah habis, dan aku tidak bisa membantah. Itu takdirku, dan aku harus menerimanya dengan tulus.

“Selamat ulang tahun, ya,” ucap Celia sambil mencium foto lamaku itu. Aku tersenyum walau aku tahu dia tidak bisa melihatku. Tapi, tahu-tahu saja air matanya jatuh. Aku pun begitu, aku rindu padanya sama dengan dia rindu kepadaku. Tapi apa boleh buat, ya.

Lalu aku melihat Celia memandang boneka yang tak sempat kukasih itu, tak lama kemudian dia mengambil boneka itu sambil tersenyum. Aku senang, dia menyukainya.

Entah kenapa, Celia memandang keluar jendela. Mungkin dia berharap aku mengawasinya. Dan aku memang mengawasinya walau hari ini yang terakhir.

Mungkin aku tak akan melihat Celia lagi, tapi memori-memori indah akan selalu teringat olehku. Ya, dan akan selalu kusimpan dalam hatiku.

Walau sampai akhirnya aku tidak bisa bilang rasa sayangku kepada Celia, tapi mengetahui rasa sayang Celia kepadaku, itu sudah cukup bagiku.

**

Pesan Yang Tak Tersampaikan : Cerita Dari Celia

Brusshh!

Aku langsung terbangun duduk di ranjang tempat tidurku. Sekujur tubuhku basah begitu pula dengan ranjangku. Dingin, apa ini?

**

Aku merenggut sepanjang sarapan. Aku merasa jengkel terhadap kakak laki-lakiku, kak Brian. Tadi pagi, atau lebih pasnya barusan, kak Brian membangunkanku dengan cara yang tidak menyenangkan, ya, seperti yang kau lihat, dia menyiramku dengan seember air dingin.

“APA-APAAN INI?!” teriakku sesaat setelah kesadaranku pulih. Dengan penuh emosi, aku menatap kak Brian yang berdiri di samping ranjang sambil memegang sebuah ember plastik bewarna merah. Dia menatapku sambil nyengir kuda.

“Pagi, Celia. Hari yang indah, ya?” kata kak Brian sambil cengengesan. Aku langsung naik darah.

“KELUAR!!” teriakku mengusir kak Brian dari kamarku. Lalu untuk selanjutnya, uh, aku tak mau bilang.

Aku sudah mengadu keorangtuaku, tapi mereka tak mau tahu urusan. Dan sekarang, aku melihat sebuah tampang mencemooh dari wajah kak Brian, menjengkelkan sekali.

Sebenarnya, kak Brian itu baik. Dia selalu sayang padaku. Setiap ada masalah menimpaku, dia selalu membantuku. Dia kakak yang baik, begitu kata teman-temanku.

Aku dan kak Brian satu sekolahan. Aku kelas 7, sedangkan kak Brian kelas 9, kami bersekolah di SMP Harapan Nusa Indah. Jadi, jika ada masalah atau gangguan dari temanku, aku tinggal mengadu ke kakakku. Aku senang sekali, mempunyai kakak seperti kak Brian. Tapi, terkadang dia suka kelewatan. Seperti tadi pagi, itu yang sering sekali membuatku jengkel.

“Segar, Celia?” tanya kak Brian iseng ketika kami dalam perjalanan menuju sekolah. Aku merenggut sambil menghentakan-hentakan kaki.

Kak Brian tertawa sambil mengusap-ngusap kepalaku. Dengan otomatis tanganku menepis tangan kak Brian.

“Celia? Ada apa?” tanya kak Brian bingung. “Sudah, dong. Jangan marah.”

“Aku benci kakak! Untuk apa, sih tadi kakak menyiramku?!” tanyaku dengan marah. Sebenarnya, aku sendiri juga bingung kenapa tiba-tiba aku marah, padahal sejak dulu aku senang jika kak Brian mengusap-ngusap kepalaku, tapi entah kenapa, hari ini rasa jengkelku tidak bisa menghilang.

“Ayolah, itu kan sudah berlalu.” kata kak Brian memelas. Aku langsung membuang muka.

“Aku tak mau bicara dengan kakak, aku benci kakak!” kataku dengan sangat ketus. Aku mempercepat laju jalanku.

“Hah?” tanya kak Brian kebingungan.

“AKU BENCI KAKAK!” teriakku dengan sangat kencang, dan bersamaan dengan itu kami sampai di gerbang sekolah. Aku segera berlari menuju kelasku, meninggalkan kak Brian di depan gerbang.

Di dalam hati, aku bertanya ada apa dengan diriku?

**

Selama belajar, kepalaku pusing. Aku bingung, kenapa tiba-tiba aku marah?

Aku tak pernah bertengkar dengan kakakku. Walaupun sering sekali merasa kesal atau jengkel, tapi tak pernah berlarut-larut seperti ini.

“Celia, kamu kenapa?” tanya salah satu temanku, Graice ketika istirahat.

“Hah?” pikiranku langsung membuyar.

“Kau sakit? Sedari tadi, kamu bengong terus.” kata Graice khawatir.

“Ah, tidak ada apa-apa,” jawabku sambil tersenyum kecut. “Ke kantin, yuk?” Graice tersenyum. Lalu kami beranjak pergi ke kantin.

Di koridor sekolah, tanpa sengaja aku bertemu kak Brian bersama dengan temannya, kak Zulhan. Aku memalingkan wajahku sambil terus berlalu. Kak Brian juga diam saja ketika aku melewatinya.

“Oh, aku mengerti,” kata Graice tiba-tiba, ketika sudah berada di depan perpustakaan. Mendengarnya, aku langsung menelan ludah.

“Ini tidak seperti yang kau pikirkan...”

Terlambat, Graice keburu memotong bicaraku, “Kamu bertengkar dengan kakakmu, ya?” tanya Graice seraya tersenyum lembut. “Sebenarnya, aku sudah curiga.”

Aku menunduk. Aku merasa sedih.

“Sebaiknya kau minta maaf ke kak Brian. Selama ini dia selalu menjagamu, kan? Selalu sayang kepadamu, kan?” kata Graice sambil mengandeng tanganku. Aku mengangguk pelan lalu tersenyum tipis.

Graice tersenyum, dengan otomatis aku memeluknya.

“Aku senang mempunyai teman sepertimu. Aku sayang kepadamu,” ucapku dengan tulus.

Graice membalas pelukanku, “Aku juga.” Lalu dia melepas pelukan. “Pulang sekolah, nanti, ingat?”

“Ya.”

**

Ting... Tong...

Bunyi bel pulang bergema di setiap sudut sekolah. Aku bergegas keluar kelas, lalu mencari kak Brian untuk meminta maaf. Tapi, sayangnya kak Brian sudah tidak ada di sekolah. Tadi, aku sudah memeriksa kelas 9-1, kelasnya sudah kosong.

Pasti, dia sudah ada dirumah, kataku kepada diri sendiri. Maka, aku pulang menuju rumah.

Setelah sampai dirumah, tak ada kak Brian. Kata ibu, dia belum pulang. Maka aku pergi lagi ke sekolah

Kakak di mana, sih? pikirku ketika di jalan.

Ketika melewati jalan Mawar VI yang letaknya tak jauh dari sekolah, ada sebuah keramaian. Banyak anak-anak dengan seragam SMP Harapan Nusa Indah berkerumun. Sepertinya ada kecelakaan, atau apa. Aku tidak tahu.

“Ada apa sih, Kak?” tanyaku kepada seorang kakak kelasku yang kukenal, kak Hara.

“Ada anak sekolahan kita, kecelakaan. Kata anak-anak yang melihat kejadiannya, yang kecelakaan itu murid kelas 9,” jawab kak Hara.

“Kejadiannya gimana?” tanyaku lagi. Anak kelas 9? Entah kenapa, kok ada firasat buruk...?

“Eng, kata Nirmala, sih ada anak kelas 9 mau menyebrang jalan. Terus tiba-tiba ada motor muncul dengan kcepatan tinggi, jadi ketabrak anaknya. Tapi, aku gak tahu juga,” jawab kak Hara tidak terlalu yakin.

“Ya sudah, makasih ya,” ucapku. Lalu aku memandang kerumunan tersebut.

Karena penasaran, aku mendekati kerumunan itu. Setelah memaksa diri masuk kerumunan, aku langsung terdiam melihat anak yang tertimpa kecelakaan itu...

“Ti...dak... mung..kin. Kakak...!”

**

Kak Brian langsung dibawa ambulans menuju rumah sakit terdekat. Ada aku di sampingnya menemani. Ada juga seorang suster duduk di sebelahku berusaha menenangkanku.

“Tenang saja, dik. Dia masih bernafas,” kata suster itu. Aku menunduk. Rasanya aku ingin menangis.

Sesampainya di rumah sakit, kak Brian langsung dibawa ke UGD. Aku menunggu di ruang tunggu, sambil berdoa. Aku takut kehilangan kakakku. Badanku terasa sangat lemas.

“Celia!” Ibu memanggilku. Aku menoleh, lalu berdiri. Beliau langsung memeluk sambil menangis. Ada ayah muncul tak lama kemudian setelah ibu. Ayah masih memakai kemeja kantornya, sepertinya setelah ayah pulang kerja, mereka langsung menyusulku ke rumah sakit.

“Mana Brian?” tanya ibu disela-sela isak tangisnya.

“Dia masih di UGD,” kataku pelan.

“Berdoa saja, Celia, berdoa saja,” kata ayah sambil memegang pundakku. Aku menatapnya dengan tatapan ‘apakah ayah yakin?’.

Ah, semoga kak Brian baik-baik saja.

**

“Kak Brian!” Aku langsung masuk ruang rawat kak Brian. Dia tergeletak di ranjang, dengan perlahan dia membuka kelopak matanya.

“Ce...lia...” suaranya masih terdengar sayup. Aku memeluk erat kak Brian. Tanpa disadari, air mataku jatuh. Ayah dan ibu berdiri berdampingan dekat pintu. Mereka terlihat sangat sedih.

“Saya tinggal sebentar, ada keperluan..” kata seorang dokter yang tadi menangani kakak. Ayah mengangguk, lalu dokter itu pergi keluar.

“Kak Brian... kakak baik-baik saja?” tanyaku sambil terisak. Dia tersenyum lembut, ada sedikit bulir air mata tersisa di matanya.

“Seper...tinya ...begi..tu,” jawabnya sambil memandangku. Wajahnya terlihat pucat.

“Kak, aku minta maaf. Aku yang salah, seharusnya aku enggak marah sama kakak,” kataku sambil menangis sejadi-jadinya. “Aku... sayang kakak...”

“Aku... jug... akh!” tiba-tiba saja kak Brian memegangi kepalanya. “Sa...kit...!!”

“Kakak, kakak tidak kenapa-kenapa?” tanyaku cemas. Aku memandang ibu. Dia tersenyum kecut.

“Kakak... kakak...” air mataku mulai menetes lagi.

“Celia... aku minta... maaf...” kata kak Brian. “Aku...” Tiba-tiba kak Brian berhenti bicara. Dia terbatuk-batuk. Dokter segera datang, bersama asisten-asistennya mereka langsung mengurus kakak. Aku menyingkir lalu mendekati orangtuaku.

Ayah langsung memeluk ibu, yang menangis pelan. Aku terdiam, air mataku menetes. Ayah mengiring kami keluar meninggalkan kakak bersama dokter. Kulihat wajah kak Brian untuk terakhir kalinya, dia tersenyum dengan seberkas air mata di sudut matanya.

Kak Brian...

**

“Ah..” desahku ketika kulirik kalender yang terpajang tak jauh dariku. 27 Mei, hari ulang tahun kak Brian.

Aku mengeluarkan sebuah foto lalu meratapi foto lama kak Brian itu. Di foto itu, dia sedang tersenyum lebar sambil berpose. Aku ingat sekali, foto ini diambil ketika liburan ke Australia. Ketika aku masih kelas 5 SD sedangkan kak Brian kelas 7 SMP.

Jika dipikir-pikir, itu sudah lama sekali. Sekarang saja aku sudah kelas 10 SMA, artinya 3 tahun sejak kematian kakakku.

Sekarang aku tinggal, tidak lagi bersama ibu dan ayah. Aku menyewa apartemen, dan tinggal di London. Ya, berkat beasiswa yang kudapat selepas SMP, aku dapat melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Aku senang sekali, walau harus berpisah ibu dan ayah. Aku dapat mengapaikan cita-cita kak Brian yang tidak tercapai untuknya. Setidaknya itu adalah hadiah ulang tahun kak Brian dariku, dan sebagai ucapan maaf untuknya.

“Selamat ulang tahun, ya,” kataku pelan sambil mencium foto kak Brian, tanpa kusadari air mataku jatuh. Aku rindu padanya, aku ingin melihatnya lagi, aku ingin sekali melihat senyuman lembutnya. Aku memandang sebuah boneka di meja dekat meja. Kata ibu, boneka itu adalah hadiah ucapan maaf dari kakakku yang tak sempat kak Brian berikan. Aku juga tidak tahu pasti, tapi katanya boneka itu ada di dalam tas kakak ketika kecelakaan itu.

Aku mengambil boneka itu lalu memperhatikannya, sambil tersenyum. Lalu kualihkan perhatianku ke luar jendela.

Ah, kakak. Jika kakak ada disini mengawasiku. Aku ingin kakak tahu, kalau aku SAYANG PADAMU, dan akan selalu begitu.

**

Wednesday, November 6, 2013