Share This Blog

Wednesday, August 21, 2013

Ketika Pulang Eskul Karate

Di sekolah baruku sekarang, aku mengikuti eskul karate. Eskulnya diadakan setiap hari Selasa dan hari Kamis, sepulang sekolah. Kemarin, baru saja aku ikut eskul karate yang ingin kuceritakan.

Hari itu, sekolah pulang cepat karena guru-gurunya mau rapat. Ketika aku hendak pergi menuju area parkir, dimana mobil antar jemput menunggu, ada temanku memanggil.

"Asyah! Kata kakak kelas, ada eskul karate hari ini." kata temanku yang waktu itu satu sekolah dasar denganku, Zahra. "Kamu bilang mau ikut karate."

"Kapan?" tanyaku.

"Gak tahu, gak jelas. Tungguin mereka dulu, katanya mereka mau jajan dulu, lama tapinya." kata Zahra sambil menunjuk Mita dan Valin. Capek, deh...

"Zar, aku gak mau kalau gak jelas. Kalau aku gak naik jemputan, trus tahu-tahu enggak ada pertemuan hari ini, yang ada rugi udah mahal-mahal bayar jemputan." jawabku. Dulu, pernah ada kejadian aku gak naik jemputan, lalu ternyata gak ada pertemuan hari itu, jadi repot pulangnya apalagi baru dikasih buku paket seluruh mata pelajaran, berat...

Karena aku malas menunggu temanku jajan, aku main pulang saja meninggalkan mereka. Habisnya, keterangannya kurang jelas, sih.

Ketika pulang, masih jam sepuluh-an. Lalu ketika sudah waktu jam makan siang, aku makan masakan mamaku. Biasanya papio yang masak, tapi karena papio kerja, mama masak. Tapi, kalau lagi kepengen atau disuruh aku yang masak. Belum lama ini aku masak sayur terong gitu, ditepungin... enak, aja tuh... :D

Seusai makan siang, aku pergi masuk ke kamar lalu bermain dengan ade Maira. Tiba-tiba saja, mamaku memanggilku dari luar.

"Kakak! Ada temannya, tuh." panggil mamaku. Aku langsung terheran-heran, karena setahuku aku tidak mengundang teman bermain ke rumah.

Ketika aku pergi menge-cek siapa temanku itu, ternyata yang datang adalah Zahra yang sepertinya habis baru dari warung. Dia bilang, ada eskul karate hari ini disekolah jam 1 siang.

"Aku udah SMS kamu 'kan, udah dibaca belum?" tanya Zahra. Aku nyengir lebar sambil garuk-garuk kepala. "Emang, ya? aku belum ngecek handphone."

Lalu aku menyuruh Zahra masuk sambil menuggu aku berganti pakaian. Dia bilang pakai baju seragam merah putih (aku sama Zahra belum dapat baju biru putih dari sekolah) lalu bawa celana training dan kaus apa aja.

Setelah lengkap (aku gak pakai dasi tapinya, biar gak ribet) aku memasukkan celana training hitam dan baju PKS bekas study tour kelas 5 kedalam tas, tak lupa sebuah handuk kecil dan sebotol air putih.

Setelah mengambil ongkos, alias uang kemarin dan hari ini yang gak kujajanin dan uang 7.000 untuk uang eskul, aku pamit lalu pergi bersama Zahra.

Sebelumnnya, Zahra bilang dia mau isi pulsa dulu di counter sebelah sebuah warung, baru pergi ke rumah Zahra karena Zahra belum bersiap-siap.

Ketika menunggu Zahra mengisi pulsa, aku bertemu dengan teh Ayu, teman Suci dan kakak kelasku ketika sekolah dasar.

"Asyah, mau kemana pake baju merah putih?" tanya teh Ayu yang hendak pergi ke warung.

"Ke sekolahan." jawabku sambil tersenyum.

Setelah itu, Zahra selesai mengisi pulsa. Kami bergegas pergi menuju rumah Zahra. Sesampainya di rumah Zahra, ibu Zahra menyuruh kami untuk mengenakan pakaian yang akan digunakan untuk karate-an. "Nanti ribet." kata beliau.

Seusai berganti baju, kami berpamitan lalu pergi ke jalan untuk menunggu angkot berwarna merah muda. Lama sekali kita menunggu, karena angkot di dekat rumah kami jarang jarang lewat.

Sekitar setengah jam menunggu, akhirnya dapat juga angkotnya, walau penuh. Saat itu, kami tahu kalau kami berdua sudah telat, karena waktu sudah menunjukan jam setengah dua.

Karena sekolahannya berada didalam sebuah perumahan, kami terpaksa berhenti didepan perumahan lalu naik ojek kedalamnya, karena kalau kita berjalan kaki lumayan jauh.

Sekarang jarak dari rumahku dan sekolahanku lumayan jauh, mungkin sekitar 1 km atau lebih. Dulu ketika sekolah dasar, jaraknya dekat. Kalau diantar papio naik motor, tak lebih dari semenit sampai di sekolah. Tapi sekarang, kalau naik kendaraan sekitar setengah jam, itu juga kalau tidak macet. Lalu di dekat rumahku, susah sekali mendapat angkutan umum, makannya itu, papio menyewa mobil antar jemput agar aku gampang berangkat dan pulang sekolah.

Well, back to story... Setelah sampai di sekolah, kami membayar ojek, lalu pergi mencari anak-anak karate. Di dekat gerbang, aku dan Zahra melihat dua anak perempuan sedang beristirahat. Dari tampang mereka, mereka anak-anak siswi kelas 7.

"Kalian ikut eskul karate?" tanya Zahra kepada salah satu dari mereka.

"Enggak, kita ikut Paskibra. Kalian ikut karate, ya? di lapangan bawah." kata salah satunya. Lalu kami berlari menuju lapangan.

Di sana, sudah ramai sekali, sudah banyak anak dan seniornnya, pelatihnya pun juga sudah datang. Kami berdua melepas sepatu, dan menaruh tas kami lalu bergabung dengan teman-teman. Disana ada teman kami yang kami kenal, Annida, si kembar Syahla dan Syahna, dan Ayang (?).

"Mana Mita dan Valin?" tanyaku.

"Belum datang, atau gak ikut kali." kata temanku.

Kami semua lalu di absen. Karena waktu bulan puasa, aku gak pernah ikut pertemuan, namaku gak disebut.

"Siapa yang namannya belum di sebut?" tanya pelatihnya, yang kata Zahra harus dipanggil dengan kata 'kang'. Aku dan bebarapa anak tunjuk tangan, lalu maju kedepan untuk memberitahukan nama kepada pelatihnya (aku gak tahu namanya, karena aku baru pertama kali ikut pertemuannya).

Setelah itu, kami disuruh berbaris lalu melakukan pemanasan. Sekitar sejam dua jam, kami pulang. Karena baru pertama kali, kata pelatihnya yang ringan-ringan dulu.

Nah, ketika pulang itu, tidak ada ojek, jadi mau tidak mau harus jalan kaki. Untung ada Ayang yang menemani aku dan Zahra, walau rumahnya tidak jauh dari sekolah.

Ketika dijalan, kami cerita-cerita. Ternyata dia (Ayang) bersahabat dengan Cazel, teman sekelasku yang cantik :) Setelah  Ayang berpisah dengan kami, aku dan Zahra melanjutkan perjalanan hingga Zahra bilang mau beli es dulu di warung karena haus. Aku gak beli, karena orangtuaku bilang tidak boleh beli es-es gitu.

Tiba-tiba Ayang datang sambil membawa motor. Dia bilang, dia mau mengantar kami sampai depan perumahan. Tanpa berpikir panjang, kami pun naik. Sebenarnya aku ragu, soalnya 'kan kalau dibawah umur gak boleh naik motor, tapi kalau gak naik, capek juga apalagi nanti pulang sendiri.

Untungnya Ayang enggak ngebut cenderung pelan, jalannya enggak kayak anak-anak lain yang bisa naik motor. Karena didepan perumahan ada sebuah tanjakan yang tinggi sekali, Ayang hanya mengantar kami sampai di dibawah tanjakan.

"Maaf, ya sampai sini. Males nanjaknya." kata Ayang. Aku tersenyum sambil bilang terimakasih ketika turun dari motor. Lalu Ayang pergi dengan motornya meninggalkan kami.

Lalu kami menaiki tanjakan hingga akhirnya sampai di samping jalan raya. Kami menunggu angkot yang melewati rumah kami, tapi tak sampai-sampai datang. Memang, sih, waktu sudah menunjukan setengah empat sore. Biasanya kalau lewat jam tiga, sudah tidak ada lagi angkot berwarna merah muda.

Karena hari makin sore, kami berniat berjalan kaki sampai rumah. Sebenarnya ada ojek, tapi Zahra gak berani, masa aku tinggalin dia? gak mungkin 'kan.

Lalu kami menyebrang jalan menuju Indomaret untuk beli minum karena air minum kami sudah habis. Setelah membayar, kami keluar lalu melewati jalan pintas yang melewati sebuah pesantren. Jalan pintasnya bukan langsung sampai rumah kami, tapi mempercepat perjalanan saja.

Sebelumnya aku mendapat SMS dari Suci. Dia bilang "Lagi apa?" sambil nyengir, aku bilang lagi jalan dari SMPN X ke rumah.

Diakhir jalan itu, kami sampai di jalan raya. Kami berjalan terus sambil ngobrol. Ketika melihat jam, waktu sudah menunjukan jam setengah lima dan kami baru seperempat jalan.

Kaki kami pegal dua-duanya. Tidak ada ayah Zahra dirumah dan tak ada papio juga dirumah. Ibu kami sama-sama gak bisa naik mobil atau motor. Tak ada angkot yang lewat. Huwaa...

Lalu tidak terasa kami sampai di belokan yang disebrangnya ada Alfamart. Itu berarti kami sudah mulai dekat (gak dekat-dekat banget, sih masih jauhlah tapi tetap saja sudah dekat). Aku sempat mampir dulu di Alfa, buat beli minum (lagi) karena minumku sudah habis.

Ketika kami melewati rumah salah satu teman kami ketika sekolah dasar yang dekat danau itu, kami ditanya seseorang dari sebrang jalan.

"Teman Tio, ya?" tanya seorang ibu.

"Iya." kata Zahra sedangkan aku mengangguk-ngangguk.
Lalu kami melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian kami sampai di perumahan yang dekat dengan sutet. Kami sudah mulai dekat.

Ketika melewati perumahan itu, kami ditanyai seseorang yang menggunakan helm. Orang itu memberhentikan motor lalu bertanya "Masih jauh gak, neng?" kami jawab saja sudah dekat. Lalu orang itu pergi. Datang lagi seorang, tapi bedanya dia tidak pakai helm dan tidak berhenti. Pertanyaannya sama dengan orang pertama, kami jawab sudah dekat lagi.

Dijalan, aku mendapat balasan SMS dari Suci. Dia bilang "Serius?" kujawab, iya udah dekat nih.

Kami pun melanjutkan perjalanan, hingga akhirnya sampai di depan rumah temannya Ashira! Ya, bukan rumah kami tapi rumah teman Ashira...

"Azizah..." aku memanggilnya (dasar iseng). Dan ternyata dia dengar, lalu membuka gerbang.

Azizah menyalami kami. "Minal aidin, kak." katanya. "Habis dari mana?".

"Jalan dari SMPN X." jawabku.

"Jalan kaki." tambah Zahra. Lalu kami melanjutkan perjalanan lagi.

Ketika sudah dekat, kami berlari-lari. Hingga tak disangka-sangka kami sampai di depan gang Zahra! maka berpisahlah kita berdua. 

Aku pun melanjutkan perjalanan sendiri. Hingga tak lama kemudian aku sampai di depan gang aku. Aku pun langsung berlari hingga akhirnya sampai depan rumah. Senang sekali, rasanya...

Kalau aku hitung, kami berjalan sekitar dua jam. Wah, lama banget ya. Itu aja udah sama kayak kalau aku mudik ke rumah nenek di Cianjur naik mobil (kalau ke rumah nenek biasanya tiga jam, jadi beda sejam doang).

Ketika bertemu mama, aku langsung cerita kalau aku jalan dari sekolah sampai rumah. Mamaku bilang.

"Kenapa gak telpon aja? nanti mama minta mba Heni jemput." aku nyengir, habisnya gak kepikiran, sih yang kepikiran papio lagi kerja jadi gak bisa jemput...

Nah, gara-gara kemarin jalan, kakiku sakit, alias kram (ketahuan jarang olahraga). Untungnya, hari ini libur karena guru-gurunya mau halal bihalal sama guru-guru sekolah lain, jadi aku bisa istirahat. Tapi, biar sakit rasanya happy-happy aja, tuh -_-