Share This Blog

Tuesday, November 26, 2013

What Was Missing?

Once upon a time, live a girl. She not pretty, but she's not ugly too. She's smart, but not too smart. She's kind, but sometimes she can be angry. She's just an ordinary girl who has a dream she wants to accomplish.

At school, she have many friends. Most of her friends, likes her. But, there also friends who don't like her with many reasons. And one of her friend who don't like her is someone unexpected, her own best friend! But, although she knew it, she just ignore it.

According to her friends, she is a strange girl. She likes something that her friends don't like, and she don't like something that her friends like. But even so, her friends still like her.

She always doubting herself. She always felt not sure with herself, like there was something missing from her, something that always jammed her heart. But, she don't know what it is.

And that's why she always looking for what's missing from her. And she will never stop until she finds what is missing from her, and become the girl that she want.

By : S.Asyah.S.Day

Critic and suggestion, please :) Hope you all like it, thanks.

Pesan Yang Tak Tersampaikan : Cerita Dari Brian

“Celia... celia... bangun.” Aku menguncang-guncang tubuh kecil adik perempuanku, Celia yang sedang tidur terlelap.

Ah, percuma. Mau berapa kali pun aku guncang-guncang badannya, dia tidak akan bangun. Dasar Celia...

Tiba-tiba sebuah ide nakal terlintas di benakku, aku langsung pergi keluar lalu mengambil barang yang kubutuhkan.

**

Aku menatap adikku dengan geli. Sedari tadi, dia merenggut terus. Aku tahu, dia pasti jengkel terhadapku, karena menyiramnya dengan air sedingin es.

“APA-APAAN INI?!” teriak Celia setelah kesadarannya pulih. Tubuhnya basah kuyup, begitu juga dengan ranjangnya. Aku yang berdiri dekat ranjangnya hanya bisa nyengir kuda ketika Celia memandangku dengan galak.

“Pagi, Celia. Hari yang indah, ya?” tanyaku sambil cengengesan. Habis mau gimana lagi, Celia kan susah sekali kalau dibangunkan.

“KELUAR!!” bentaknya sambil menunjuk-nunjuk diriku. Dengan paksa, aku diseret keluar pintu oleh Celia lalu dia membanting pintu persis di depan batang hidungku. Setelah itu, aku tak tahu apa yang dilakukan Celia di dalam.

“Bu, kak Brian menyiramku dengan air dingin.” Adu Celia ketika sarapan. Aku hanya terdiam, sambil mengangkat alis ketika ibu menatapku.

“Selesaikanlah urusanmu, dengan kakakmu itu, Celia,” jawab ibu tak mau tahu urusan. Ayah pun begitu, dia terus asyik membaca koran harian miliknya.

Celia semakin cemberut. Pasti dia jengkel sekali, pikirku.

Aku senang sekali jika melihat Celia merengut, atau cemberut. Lucu. Itu yang sering sekali membuatku senang mengodanya. Aku juga senang, jika melihat Celia tertawa. Rasanya aku ingin ikut tertawa bersamanya, tapi sayangnya Celia jarang-jarang tertawa, atau tersenyum habisnya dia mudah sekali tersinggung, sih. Hah...

Aku sangat sayang kepada Celia. Dia adalah adikku satu-satunya. Kerena itu aku ingin menjadi seorang kakak yang baik dan menyenangkan bagi Celia. Aku tidak suka jika ada temannya yang jahil, atau ada anak memusuhinya tanpa alasan. Aku selalu menjaga Celia dan membuatnya senang.

Aku bahagia sekali, dapat satu sekolah dengan Celia di SMP Harapan Nusa Indah, walau hanya setahun sekolah bersama-sama. Ya, seperti yang kau lihat, aku sayang sekali dengan adikku.

“Segar, Celia?” godaku sambil tersenyum ketika dalam perjalanan menuju sekolah. Celia merengut sambil menghentak-hentakan kakinya. Lucu.

Aku tertawa lalu mengusap-ngusap kepalanya. Tapi, tiba-tiba saja Celia menepis tanganku. “Celia? Ada apa?” tanyaku bingung. Setahuku Celia sangat senang jika kuusap-usap kepalanya. “Sudah, dong jangan marah.”

“Aku benci kakak!” ucap Celia tiba-tiba. Aku langsung terdiam. Celia, Celia, benci kepadaku? “Untuk apa sih, tadi kakak menyiramku?” tanyanya marah.

“Ayolah, itu kan sudah berlalu,” ucapku memelas. Celia membuang muka.

“Aku tak mau bicara dengan kakak, aku benci kakak!” kata Celia ketus. Lalu dia mempercepat laju jalannya, aku mengikutinya.

“Hah?”

“AKU BENCI KAKAK!” teriak Celia kencang lalu langsung berlari masuk sekolah meninggalkan aku sendirian...

Celia, benci denganku... sepertinya aku gagal sebagai kakak....

**

Aku terus melamun selama pelajaran. Aku sama sekali tidak memperhatikan pelajaran yang diberikan pak Sofyan, guru matematika.

“Brian Agung Laksono!” panggil pak Sofyan. Aku langsung berdiri, sambil menunjuk tangan. Lamunanku langsung buyar. “ Saya, pak.”

“Brian, tolong kamu kerjakan uji kompetensi 11, no.4 di papan tulis!” perintah pak Sofyan. Aku mengangguk lalu pergi ke depan, mengerjakan perintah pak Sofyan di papan tulis sambil berusaha konsentrasi.

“Tadi, kau kenapa? Sepertinya kaget sekali pas pak Sofyan manggil kamu,” kata Zulhan ketika istirahat.

“Ah, tidak. Tadi cuma...” bicaraku terhenti ketika sampai di koridor. Tanpa sengaja, aku bertemu Celia bersama salah satu teman dekatnya, Graice.

Dia memandangku sekilas, lalu berjalan melewatiku tanpa bicara. Temannya mengikutinya dari belakang sambil memandangku. Aku terdiam.

“Hah...” kataku setelah aku merasa Celia sudah jauh. “Seperti yang kau lihat, aku bertengkar dengan adikku, Han.” Ceritaku kepada Zulhan. Dia mengangguk-angguk.

“Kapan?” tanyanya.

“Barusan, jadi belum maafan,” lanjutku sambil menghembuskan nafas.

“Kalau begitu, harusnya kau minta maaf tadi,” kata Zulhan sambil tersenyum.

“Hah? Di depan temannya? Tidak!” kataku. “Lagipula, dia yang mulai duluan.” Lalu kuceritakan kejadian tadi pagi.

“Wah, kalau itu sih, kau yang salah. Untuk apa kau siram dia? Pasti dia jengkel sekali,” kata Zulhan sambil tertawa. Aku memandangnya tidak suka, tapi Zulhan benar juga sih. Jika aku tidak menyiram Celia, pasti kita tahkan bertengkar. Aku sudah kelewatan...

“Ya, deh, ya, deh nanti pulang sekolah,” kataku akhirnya. Zulhan tersenyum sambil mengangkat alisnya. “Apaan sih?” kataku.

**

Yah, kelas 7-2 belum pulang, pikirku ketika mengintip kelas 7-2 dengan diam-diam. Di dalam masih ada bu Dewi yang mengajar bahasa Inggris.

Jadi, dari pada aku nongkrong di depan kelas 7-2, dan diperhatikan adik kelas, aku pergi ke sebuah toko boneka di Jalan Mawar VI yang letaknya tak jauh dari sekolah.

Banyak sekali boneka lucu-lucu terpajang di toko itu. Ada boneka teddy bear, princess, binatang, dan masih banyak lagi.

Setelah menemukan sebuah boneka yang cocok untuk Celia, aku membayarnya lalu memasukkannya ke dalam tas.

Hatiku riang sekali rasanya, pasti Celia menyukai boneka teddy bear berwarna pink yang kubeli ini.

Sambil bersiul-siul aku pergi keluar toko. Aku melihat banyak anak kelas 7 sudah pulang, pasti Celia juga sudah pulang. Maka aku beranjak pergi dari toko, untungnya letak sekolah tidak jauh dari toko.

Tapi karena letak sekolahnya berlawanan arah dengan toko boneka itu, aku harus menyebrang jalan terlebih dahulu.

Setelah aku merasa jalanan sudah aman dari kendaraan, aku berjalan menyebrang jalan. Ketika baru setengah jalan, tiba-tiba sebuah motor muncul dari tikungan dengan kecepatan tinggi. Dan akhirnya ....

**

Aku membuka kelopak mata dengan perlahan, ugh.. rasanya berat sekali. Samar-samar, aku melihat wajah Celia. Dia memelukku.

“Ce...lia...” ucapku lemah, aku berusaha mengapai wajah Celia, aku ingin menyentuh pipinya yang bersimbah air mata. Tapi, tidak bisa, badanku terlalu lemah.

“Saya tinggal sebentar, ada keperluan..” Aku mendengar dokter itu berkata kepada orangtuaku. Aku ingin melihat wajah orangtuaku, tapi rasanya sulit sekali. Kepalaku pening sekali.

“Kak Brian... kakak baik-baik saja?” isak Celia sambil menatapku dengan cemas. Aku tersenyum, air mataku keluar sedikit.

“Seper...tinya ...begi..tu,” jawabku seraya menatap Celia dengan penuh rasa sayang.

“Kak, aku minta maaf. Aku yang salah, seharusnya aku enggak marah sama kakak,” kata Celia sambil menangis sejadi-jadinya. “Aku... sayang kakak...”

Hatiku terasa bahagia. Celia, Celia, sayang kepadaku...!

“Aku... jug... akh!” Tiba-tiba saja kepalaku terasa sakit, padahal aku ingin Celia tahu kalau aku sayang sekali kepadanya.

“Sa...kit...!!” keluhku sambil memegangi kepalaku. Ugh.. kenapa tiba-tiba?

“Kakak, kakak tidak kenapa-kenapa?” tanya Celia cemas. Rasanya aku ingin menangis, aku tak mau Celia cemas.

“Kakak... kakak...” air mata Celia mengalir deras, ada beberapa yang jatuh membasahi wajahku.

“Celia... aku minta... maaf...” ucapku dengan lemah. “Aku...” Aku tidak bisa melanjutkan bicaraku. Aku tidak bisa menyampaikan rasa sayangku kepada adikku, perasaan bahagia mempunyai adik seperti Celia. Kenapa, harus sekarang? Aku masih ingin bermain dengan Celia. Aku belum puas bercanda dengannya. Jangan, kumohon, jangan sekarang...

Aku yang lemah sambil terbatuk-batuk, melihat Celia menyingkir sambil menangis. Lalu datanglah dokter dan asistennya, mereka langsung berusaha menyelamatkanku, berusaha membuatku tetap hidup, tapi tubuhku terasa lemah sekali... Aku tidak sanggup walau aku ingin terus hidup...

Aku mengerakkan kepalaku perlahan, aku melihat Celia digiring keluar ayah yang tegar, ada ibu juga yang menangis. Entah kenapa, aku merasa bersalah..

Celia menoleh kebelakang memandangku, matanya penuh dengan air mata. Aku tersenyum sambil menangis juga karena aku tahu inilah saat terakhir bersama adikku...

**

Aku duduk di sebelah Celia, yang sekarang sudah mulai besar. Dia sedang meratapi foto lamaku dengan sedih. Celia...

Hari ini tanggal 27 Mei, hari ulang tahunku. Entah kenapa, hatiku rasanya bahagia sekali. Celia behasil lulus SMP dengan nilai luar biasa dan mendapat beasiswa SMA di London. Aku senang, setidaknya cita-citaku tercapai, walau Celia yang menikmatinya.

Hari ini juga hari terakhir aku mengawasi Celia. Esok hari, aku akan pergi untuk selama-lamanya karena Celia sudah mulai ikhlas dengan kepergianku. Itu bagus, jadi dia tidak terus-menerus sedih.

Aku juga sudah rela meninggalkan adik perempuanku yang kusayangi. Beberapa hari yang lalu, aku baru sadar, seharusnya aku bersyukur mempunyai adik seperti Celia. Waktuku bersama Celia sudah habis, dan aku tidak bisa membantah. Itu takdirku, dan aku harus menerimanya dengan tulus.

“Selamat ulang tahun, ya,” ucap Celia sambil mencium foto lamaku itu. Aku tersenyum walau aku tahu dia tidak bisa melihatku. Tapi, tahu-tahu saja air matanya jatuh. Aku pun begitu, aku rindu padanya sama dengan dia rindu kepadaku. Tapi apa boleh buat, ya.

Lalu aku melihat Celia memandang boneka yang tak sempat kukasih itu, tak lama kemudian dia mengambil boneka itu sambil tersenyum. Aku senang, dia menyukainya.

Entah kenapa, Celia memandang keluar jendela. Mungkin dia berharap aku mengawasinya. Dan aku memang mengawasinya walau hari ini yang terakhir.

Mungkin aku tak akan melihat Celia lagi, tapi memori-memori indah akan selalu teringat olehku. Ya, dan akan selalu kusimpan dalam hatiku.

Walau sampai akhirnya aku tidak bisa bilang rasa sayangku kepada Celia, tapi mengetahui rasa sayang Celia kepadaku, itu sudah cukup bagiku.

**

Pesan Yang Tak Tersampaikan : Cerita Dari Celia

Brusshh!

Aku langsung terbangun duduk di ranjang tempat tidurku. Sekujur tubuhku basah begitu pula dengan ranjangku. Dingin, apa ini?

**

Aku merenggut sepanjang sarapan. Aku merasa jengkel terhadap kakak laki-lakiku, kak Brian. Tadi pagi, atau lebih pasnya barusan, kak Brian membangunkanku dengan cara yang tidak menyenangkan, ya, seperti yang kau lihat, dia menyiramku dengan seember air dingin.

“APA-APAAN INI?!” teriakku sesaat setelah kesadaranku pulih. Dengan penuh emosi, aku menatap kak Brian yang berdiri di samping ranjang sambil memegang sebuah ember plastik bewarna merah. Dia menatapku sambil nyengir kuda.

“Pagi, Celia. Hari yang indah, ya?” kata kak Brian sambil cengengesan. Aku langsung naik darah.

“KELUAR!!” teriakku mengusir kak Brian dari kamarku. Lalu untuk selanjutnya, uh, aku tak mau bilang.

Aku sudah mengadu keorangtuaku, tapi mereka tak mau tahu urusan. Dan sekarang, aku melihat sebuah tampang mencemooh dari wajah kak Brian, menjengkelkan sekali.

Sebenarnya, kak Brian itu baik. Dia selalu sayang padaku. Setiap ada masalah menimpaku, dia selalu membantuku. Dia kakak yang baik, begitu kata teman-temanku.

Aku dan kak Brian satu sekolahan. Aku kelas 7, sedangkan kak Brian kelas 9, kami bersekolah di SMP Harapan Nusa Indah. Jadi, jika ada masalah atau gangguan dari temanku, aku tinggal mengadu ke kakakku. Aku senang sekali, mempunyai kakak seperti kak Brian. Tapi, terkadang dia suka kelewatan. Seperti tadi pagi, itu yang sering sekali membuatku jengkel.

“Segar, Celia?” tanya kak Brian iseng ketika kami dalam perjalanan menuju sekolah. Aku merenggut sambil menghentakan-hentakan kaki.

Kak Brian tertawa sambil mengusap-ngusap kepalaku. Dengan otomatis tanganku menepis tangan kak Brian.

“Celia? Ada apa?” tanya kak Brian bingung. “Sudah, dong. Jangan marah.”

“Aku benci kakak! Untuk apa, sih tadi kakak menyiramku?!” tanyaku dengan marah. Sebenarnya, aku sendiri juga bingung kenapa tiba-tiba aku marah, padahal sejak dulu aku senang jika kak Brian mengusap-ngusap kepalaku, tapi entah kenapa, hari ini rasa jengkelku tidak bisa menghilang.

“Ayolah, itu kan sudah berlalu.” kata kak Brian memelas. Aku langsung membuang muka.

“Aku tak mau bicara dengan kakak, aku benci kakak!” kataku dengan sangat ketus. Aku mempercepat laju jalanku.

“Hah?” tanya kak Brian kebingungan.

“AKU BENCI KAKAK!” teriakku dengan sangat kencang, dan bersamaan dengan itu kami sampai di gerbang sekolah. Aku segera berlari menuju kelasku, meninggalkan kak Brian di depan gerbang.

Di dalam hati, aku bertanya ada apa dengan diriku?

**

Selama belajar, kepalaku pusing. Aku bingung, kenapa tiba-tiba aku marah?

Aku tak pernah bertengkar dengan kakakku. Walaupun sering sekali merasa kesal atau jengkel, tapi tak pernah berlarut-larut seperti ini.

“Celia, kamu kenapa?” tanya salah satu temanku, Graice ketika istirahat.

“Hah?” pikiranku langsung membuyar.

“Kau sakit? Sedari tadi, kamu bengong terus.” kata Graice khawatir.

“Ah, tidak ada apa-apa,” jawabku sambil tersenyum kecut. “Ke kantin, yuk?” Graice tersenyum. Lalu kami beranjak pergi ke kantin.

Di koridor sekolah, tanpa sengaja aku bertemu kak Brian bersama dengan temannya, kak Zulhan. Aku memalingkan wajahku sambil terus berlalu. Kak Brian juga diam saja ketika aku melewatinya.

“Oh, aku mengerti,” kata Graice tiba-tiba, ketika sudah berada di depan perpustakaan. Mendengarnya, aku langsung menelan ludah.

“Ini tidak seperti yang kau pikirkan...”

Terlambat, Graice keburu memotong bicaraku, “Kamu bertengkar dengan kakakmu, ya?” tanya Graice seraya tersenyum lembut. “Sebenarnya, aku sudah curiga.”

Aku menunduk. Aku merasa sedih.

“Sebaiknya kau minta maaf ke kak Brian. Selama ini dia selalu menjagamu, kan? Selalu sayang kepadamu, kan?” kata Graice sambil mengandeng tanganku. Aku mengangguk pelan lalu tersenyum tipis.

Graice tersenyum, dengan otomatis aku memeluknya.

“Aku senang mempunyai teman sepertimu. Aku sayang kepadamu,” ucapku dengan tulus.

Graice membalas pelukanku, “Aku juga.” Lalu dia melepas pelukan. “Pulang sekolah, nanti, ingat?”

“Ya.”

**

Ting... Tong...

Bunyi bel pulang bergema di setiap sudut sekolah. Aku bergegas keluar kelas, lalu mencari kak Brian untuk meminta maaf. Tapi, sayangnya kak Brian sudah tidak ada di sekolah. Tadi, aku sudah memeriksa kelas 9-1, kelasnya sudah kosong.

Pasti, dia sudah ada dirumah, kataku kepada diri sendiri. Maka, aku pulang menuju rumah.

Setelah sampai dirumah, tak ada kak Brian. Kata ibu, dia belum pulang. Maka aku pergi lagi ke sekolah

Kakak di mana, sih? pikirku ketika di jalan.

Ketika melewati jalan Mawar VI yang letaknya tak jauh dari sekolah, ada sebuah keramaian. Banyak anak-anak dengan seragam SMP Harapan Nusa Indah berkerumun. Sepertinya ada kecelakaan, atau apa. Aku tidak tahu.

“Ada apa sih, Kak?” tanyaku kepada seorang kakak kelasku yang kukenal, kak Hara.

“Ada anak sekolahan kita, kecelakaan. Kata anak-anak yang melihat kejadiannya, yang kecelakaan itu murid kelas 9,” jawab kak Hara.

“Kejadiannya gimana?” tanyaku lagi. Anak kelas 9? Entah kenapa, kok ada firasat buruk...?

“Eng, kata Nirmala, sih ada anak kelas 9 mau menyebrang jalan. Terus tiba-tiba ada motor muncul dengan kcepatan tinggi, jadi ketabrak anaknya. Tapi, aku gak tahu juga,” jawab kak Hara tidak terlalu yakin.

“Ya sudah, makasih ya,” ucapku. Lalu aku memandang kerumunan tersebut.

Karena penasaran, aku mendekati kerumunan itu. Setelah memaksa diri masuk kerumunan, aku langsung terdiam melihat anak yang tertimpa kecelakaan itu...

“Ti...dak... mung..kin. Kakak...!”

**

Kak Brian langsung dibawa ambulans menuju rumah sakit terdekat. Ada aku di sampingnya menemani. Ada juga seorang suster duduk di sebelahku berusaha menenangkanku.

“Tenang saja, dik. Dia masih bernafas,” kata suster itu. Aku menunduk. Rasanya aku ingin menangis.

Sesampainya di rumah sakit, kak Brian langsung dibawa ke UGD. Aku menunggu di ruang tunggu, sambil berdoa. Aku takut kehilangan kakakku. Badanku terasa sangat lemas.

“Celia!” Ibu memanggilku. Aku menoleh, lalu berdiri. Beliau langsung memeluk sambil menangis. Ada ayah muncul tak lama kemudian setelah ibu. Ayah masih memakai kemeja kantornya, sepertinya setelah ayah pulang kerja, mereka langsung menyusulku ke rumah sakit.

“Mana Brian?” tanya ibu disela-sela isak tangisnya.

“Dia masih di UGD,” kataku pelan.

“Berdoa saja, Celia, berdoa saja,” kata ayah sambil memegang pundakku. Aku menatapnya dengan tatapan ‘apakah ayah yakin?’.

Ah, semoga kak Brian baik-baik saja.

**

“Kak Brian!” Aku langsung masuk ruang rawat kak Brian. Dia tergeletak di ranjang, dengan perlahan dia membuka kelopak matanya.

“Ce...lia...” suaranya masih terdengar sayup. Aku memeluk erat kak Brian. Tanpa disadari, air mataku jatuh. Ayah dan ibu berdiri berdampingan dekat pintu. Mereka terlihat sangat sedih.

“Saya tinggal sebentar, ada keperluan..” kata seorang dokter yang tadi menangani kakak. Ayah mengangguk, lalu dokter itu pergi keluar.

“Kak Brian... kakak baik-baik saja?” tanyaku sambil terisak. Dia tersenyum lembut, ada sedikit bulir air mata tersisa di matanya.

“Seper...tinya ...begi..tu,” jawabnya sambil memandangku. Wajahnya terlihat pucat.

“Kak, aku minta maaf. Aku yang salah, seharusnya aku enggak marah sama kakak,” kataku sambil menangis sejadi-jadinya. “Aku... sayang kakak...”

“Aku... jug... akh!” tiba-tiba saja kak Brian memegangi kepalanya. “Sa...kit...!!”

“Kakak, kakak tidak kenapa-kenapa?” tanyaku cemas. Aku memandang ibu. Dia tersenyum kecut.

“Kakak... kakak...” air mataku mulai menetes lagi.

“Celia... aku minta... maaf...” kata kak Brian. “Aku...” Tiba-tiba kak Brian berhenti bicara. Dia terbatuk-batuk. Dokter segera datang, bersama asisten-asistennya mereka langsung mengurus kakak. Aku menyingkir lalu mendekati orangtuaku.

Ayah langsung memeluk ibu, yang menangis pelan. Aku terdiam, air mataku menetes. Ayah mengiring kami keluar meninggalkan kakak bersama dokter. Kulihat wajah kak Brian untuk terakhir kalinya, dia tersenyum dengan seberkas air mata di sudut matanya.

Kak Brian...

**

“Ah..” desahku ketika kulirik kalender yang terpajang tak jauh dariku. 27 Mei, hari ulang tahun kak Brian.

Aku mengeluarkan sebuah foto lalu meratapi foto lama kak Brian itu. Di foto itu, dia sedang tersenyum lebar sambil berpose. Aku ingat sekali, foto ini diambil ketika liburan ke Australia. Ketika aku masih kelas 5 SD sedangkan kak Brian kelas 7 SMP.

Jika dipikir-pikir, itu sudah lama sekali. Sekarang saja aku sudah kelas 10 SMA, artinya 3 tahun sejak kematian kakakku.

Sekarang aku tinggal, tidak lagi bersama ibu dan ayah. Aku menyewa apartemen, dan tinggal di London. Ya, berkat beasiswa yang kudapat selepas SMP, aku dapat melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Aku senang sekali, walau harus berpisah ibu dan ayah. Aku dapat mengapaikan cita-cita kak Brian yang tidak tercapai untuknya. Setidaknya itu adalah hadiah ulang tahun kak Brian dariku, dan sebagai ucapan maaf untuknya.

“Selamat ulang tahun, ya,” kataku pelan sambil mencium foto kak Brian, tanpa kusadari air mataku jatuh. Aku rindu padanya, aku ingin melihatnya lagi, aku ingin sekali melihat senyuman lembutnya. Aku memandang sebuah boneka di meja dekat meja. Kata ibu, boneka itu adalah hadiah ucapan maaf dari kakakku yang tak sempat kak Brian berikan. Aku juga tidak tahu pasti, tapi katanya boneka itu ada di dalam tas kakak ketika kecelakaan itu.

Aku mengambil boneka itu lalu memperhatikannya, sambil tersenyum. Lalu kualihkan perhatianku ke luar jendela.

Ah, kakak. Jika kakak ada disini mengawasiku. Aku ingin kakak tahu, kalau aku SAYANG PADAMU, dan akan selalu begitu.

**

Wednesday, November 6, 2013

Tuesday, October 29, 2013

Tuesday, October 15, 2013

Mind Mapping: Manusia Sebagai Mahluk Sosial dan Ekonomi


Tugas sekolah mind mapping pelajaran IPS
Manusia Sebagai Mahluk Sosial dan Ekonomi

Saturday, September 21, 2013

Masjid Kubah Emas Dian Al-Mahri

Waktu jam mata pelajaran bahasa Inggris, aku dan semua teman sekelasku diminta untuk membuat kelompok lalu membuat teks dekripsi tentang tempat yang nanti kita akan kunjungi. Anggota kelompokku ada 6 anak, Aku, Mita, Syahla, Valin, Fadam, dan Hidayat atau sapaannya Hidan. Kami memilih untuk pergi dan membuat dekripsi tentang Masjid Kubah Emas.

Pada hari Sabtu, 21 September 2013 kami melakukan kunjungan ke Masjid Kubah Emas Depok yang terletak di Jln. Raya Meruyung, Kecamatan Limo, Depok.

Masjid ini bernama asli Masjid Dian Almahri. Disebut Masjid Kubah Emas karena kubah-kubahnya yang memang terbuat dari emas. Masjid Kubah Emas termasuk salah satu masjid termegah di Asia Tenggara.

Masjid ini mulai dibangun bulan April 1999 dan diresmikan tanggal 31 Desember 2006. Masjid Dian Almahri diambil dari nama pendiri masjid yang sangat menawan ini, yakni Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid, pengusaha asal Banten.
Masjid mengagumkan ini berdiri di lahan sekitar 70 hektare dan mempunyai gaya arsitektur yang sangat khas.

Masjid ini mempunyai luas sekitar 8.000 meter persegi yang terdiri dari bangunan utama, mezamin, halaman dalam, selasar atas, selasar bawah, tempat sepatu, dan tempat wudhu. Masjid ini mampu menampung sekitar 15.000 jamaah untuk melaksanakan sholat dan 20.000 jamaah untuk pelaksanaan majilis taklim. Masjid Kubah Emas mempunyai lima kubah, dan enam menara.

Kelima kubah masjid ini dilapisi oleh gold mozaik 24 karat. Bentuk kubah utama memiliki diameter bawah 16 meter, diameter tengah 20 meter, dan tinggi 25 meter. Sedangkan keempat kubah lainnya memiliki diameter bawah 6 meter, diameter tengah 7 meter, dan tinggi 8 meter.

Selain pada kubah, material emas juga terdapat di mahkota pilar interior berupa serbuk emas, gold planning di tangga mezamin, kapital, lampu gantung, ornamen kaligrafi langit-langit kubah, dan ornament dekoratif di atas minbar mihrab.

Relief hiasan di atas tempat imam terbuat dari emas 18 karat. Begitu juga pagar di lantai dua dan hiasan kaligrafi di langit-langit masjid. Sedangkan mahkota pilar masjid yang berjumlah 168 buah berlapis bahan prado atau sisa emas.

Ruang utama masjid memiliki ukuran 45×57 meter, dapat menampung sebanyak 8.000 jamaah. Masjid ini memiliki 6 minaret berbentuk segi enam yang tingginya masing-masing 40 meter. 6 minaret ini dibalut granit abu-abu dari itali dengan ornamen yang melingkar. Pada puncak minaret terdapat kubah berlapis mozaik emas 24 karat.

Kubah masjid ini mengacu kubah yang digunakan masjid-masjid Persia dan India. Lima kubah melambangkan rukun Islam, seluruhnya dibalut mozaik berlapis emas 24 karat yang materialnya diimpor dari Italia.

Pada langit-langit kubah terdapat lukisan langit yang warnanya dapat berubah sesuai dengan warna langit pada waktu-waktu sholat dengan menggunakan teknologi tata cahaya yang diprogram dengan komputer.

Interior masjid ini menampilkan pilar-pilar kokoh yang tinggi menjulang untuk menciptakan skala ruang yang agung. Ruang masjid didominasi warna monokrom dengan unsur utama warna krem, untuk memberi karakter ruang yang tenang dan hangat. Materialnya terbuat dari bahan marmer yang diimpor dari Turki dan Italia. Di tengah ruang, tergantung lampu yang terbuat dari kuningan berlapis emas seberat 2,7 ton, yang dikerjakan oleh ahli dari Italia.
Selain masjid, di kawasan sekitar masjid juga terdapat gedung serba guna yang mampu menampung 20.000 jamaah, villa, dapur umum, ruko dan rumah tinggal pendiri masjid.











Wednesday, September 11, 2013

Tuesday, September 10, 2013

Wednesday, August 21, 2013

Ketika Pulang Eskul Karate

Di sekolah baruku sekarang, aku mengikuti eskul karate. Eskulnya diadakan setiap hari Selasa dan hari Kamis, sepulang sekolah. Kemarin, baru saja aku ikut eskul karate yang ingin kuceritakan.

Hari itu, sekolah pulang cepat karena guru-gurunya mau rapat. Ketika aku hendak pergi menuju area parkir, dimana mobil antar jemput menunggu, ada temanku memanggil.

"Asyah! Kata kakak kelas, ada eskul karate hari ini." kata temanku yang waktu itu satu sekolah dasar denganku, Zahra. "Kamu bilang mau ikut karate."

"Kapan?" tanyaku.

"Gak tahu, gak jelas. Tungguin mereka dulu, katanya mereka mau jajan dulu, lama tapinya." kata Zahra sambil menunjuk Mita dan Valin. Capek, deh...

"Zar, aku gak mau kalau gak jelas. Kalau aku gak naik jemputan, trus tahu-tahu enggak ada pertemuan hari ini, yang ada rugi udah mahal-mahal bayar jemputan." jawabku. Dulu, pernah ada kejadian aku gak naik jemputan, lalu ternyata gak ada pertemuan hari itu, jadi repot pulangnya apalagi baru dikasih buku paket seluruh mata pelajaran, berat...

Karena aku malas menunggu temanku jajan, aku main pulang saja meninggalkan mereka. Habisnya, keterangannya kurang jelas, sih.

Ketika pulang, masih jam sepuluh-an. Lalu ketika sudah waktu jam makan siang, aku makan masakan mamaku. Biasanya papio yang masak, tapi karena papio kerja, mama masak. Tapi, kalau lagi kepengen atau disuruh aku yang masak. Belum lama ini aku masak sayur terong gitu, ditepungin... enak, aja tuh... :D

Seusai makan siang, aku pergi masuk ke kamar lalu bermain dengan ade Maira. Tiba-tiba saja, mamaku memanggilku dari luar.

"Kakak! Ada temannya, tuh." panggil mamaku. Aku langsung terheran-heran, karena setahuku aku tidak mengundang teman bermain ke rumah.

Ketika aku pergi menge-cek siapa temanku itu, ternyata yang datang adalah Zahra yang sepertinya habis baru dari warung. Dia bilang, ada eskul karate hari ini disekolah jam 1 siang.

"Aku udah SMS kamu 'kan, udah dibaca belum?" tanya Zahra. Aku nyengir lebar sambil garuk-garuk kepala. "Emang, ya? aku belum ngecek handphone."

Lalu aku menyuruh Zahra masuk sambil menuggu aku berganti pakaian. Dia bilang pakai baju seragam merah putih (aku sama Zahra belum dapat baju biru putih dari sekolah) lalu bawa celana training dan kaus apa aja.

Setelah lengkap (aku gak pakai dasi tapinya, biar gak ribet) aku memasukkan celana training hitam dan baju PKS bekas study tour kelas 5 kedalam tas, tak lupa sebuah handuk kecil dan sebotol air putih.

Setelah mengambil ongkos, alias uang kemarin dan hari ini yang gak kujajanin dan uang 7.000 untuk uang eskul, aku pamit lalu pergi bersama Zahra.

Sebelumnnya, Zahra bilang dia mau isi pulsa dulu di counter sebelah sebuah warung, baru pergi ke rumah Zahra karena Zahra belum bersiap-siap.

Ketika menunggu Zahra mengisi pulsa, aku bertemu dengan teh Ayu, teman Suci dan kakak kelasku ketika sekolah dasar.

"Asyah, mau kemana pake baju merah putih?" tanya teh Ayu yang hendak pergi ke warung.

"Ke sekolahan." jawabku sambil tersenyum.

Setelah itu, Zahra selesai mengisi pulsa. Kami bergegas pergi menuju rumah Zahra. Sesampainya di rumah Zahra, ibu Zahra menyuruh kami untuk mengenakan pakaian yang akan digunakan untuk karate-an. "Nanti ribet." kata beliau.

Seusai berganti baju, kami berpamitan lalu pergi ke jalan untuk menunggu angkot berwarna merah muda. Lama sekali kita menunggu, karena angkot di dekat rumah kami jarang jarang lewat.

Sekitar setengah jam menunggu, akhirnya dapat juga angkotnya, walau penuh. Saat itu, kami tahu kalau kami berdua sudah telat, karena waktu sudah menunjukan jam setengah dua.

Karena sekolahannya berada didalam sebuah perumahan, kami terpaksa berhenti didepan perumahan lalu naik ojek kedalamnya, karena kalau kita berjalan kaki lumayan jauh.

Sekarang jarak dari rumahku dan sekolahanku lumayan jauh, mungkin sekitar 1 km atau lebih. Dulu ketika sekolah dasar, jaraknya dekat. Kalau diantar papio naik motor, tak lebih dari semenit sampai di sekolah. Tapi sekarang, kalau naik kendaraan sekitar setengah jam, itu juga kalau tidak macet. Lalu di dekat rumahku, susah sekali mendapat angkutan umum, makannya itu, papio menyewa mobil antar jemput agar aku gampang berangkat dan pulang sekolah.

Well, back to story... Setelah sampai di sekolah, kami membayar ojek, lalu pergi mencari anak-anak karate. Di dekat gerbang, aku dan Zahra melihat dua anak perempuan sedang beristirahat. Dari tampang mereka, mereka anak-anak siswi kelas 7.

"Kalian ikut eskul karate?" tanya Zahra kepada salah satu dari mereka.

"Enggak, kita ikut Paskibra. Kalian ikut karate, ya? di lapangan bawah." kata salah satunya. Lalu kami berlari menuju lapangan.

Di sana, sudah ramai sekali, sudah banyak anak dan seniornnya, pelatihnya pun juga sudah datang. Kami berdua melepas sepatu, dan menaruh tas kami lalu bergabung dengan teman-teman. Disana ada teman kami yang kami kenal, Annida, si kembar Syahla dan Syahna, dan Ayang (?).

"Mana Mita dan Valin?" tanyaku.

"Belum datang, atau gak ikut kali." kata temanku.

Kami semua lalu di absen. Karena waktu bulan puasa, aku gak pernah ikut pertemuan, namaku gak disebut.

"Siapa yang namannya belum di sebut?" tanya pelatihnya, yang kata Zahra harus dipanggil dengan kata 'kang'. Aku dan bebarapa anak tunjuk tangan, lalu maju kedepan untuk memberitahukan nama kepada pelatihnya (aku gak tahu namanya, karena aku baru pertama kali ikut pertemuannya).

Setelah itu, kami disuruh berbaris lalu melakukan pemanasan. Sekitar sejam dua jam, kami pulang. Karena baru pertama kali, kata pelatihnya yang ringan-ringan dulu.

Nah, ketika pulang itu, tidak ada ojek, jadi mau tidak mau harus jalan kaki. Untung ada Ayang yang menemani aku dan Zahra, walau rumahnya tidak jauh dari sekolah.

Ketika dijalan, kami cerita-cerita. Ternyata dia (Ayang) bersahabat dengan Cazel, teman sekelasku yang cantik :) Setelah  Ayang berpisah dengan kami, aku dan Zahra melanjutkan perjalanan hingga Zahra bilang mau beli es dulu di warung karena haus. Aku gak beli, karena orangtuaku bilang tidak boleh beli es-es gitu.

Tiba-tiba Ayang datang sambil membawa motor. Dia bilang, dia mau mengantar kami sampai depan perumahan. Tanpa berpikir panjang, kami pun naik. Sebenarnya aku ragu, soalnya 'kan kalau dibawah umur gak boleh naik motor, tapi kalau gak naik, capek juga apalagi nanti pulang sendiri.

Untungnya Ayang enggak ngebut cenderung pelan, jalannya enggak kayak anak-anak lain yang bisa naik motor. Karena didepan perumahan ada sebuah tanjakan yang tinggi sekali, Ayang hanya mengantar kami sampai di dibawah tanjakan.

"Maaf, ya sampai sini. Males nanjaknya." kata Ayang. Aku tersenyum sambil bilang terimakasih ketika turun dari motor. Lalu Ayang pergi dengan motornya meninggalkan kami.

Lalu kami menaiki tanjakan hingga akhirnya sampai di samping jalan raya. Kami menunggu angkot yang melewati rumah kami, tapi tak sampai-sampai datang. Memang, sih, waktu sudah menunjukan setengah empat sore. Biasanya kalau lewat jam tiga, sudah tidak ada lagi angkot berwarna merah muda.

Karena hari makin sore, kami berniat berjalan kaki sampai rumah. Sebenarnya ada ojek, tapi Zahra gak berani, masa aku tinggalin dia? gak mungkin 'kan.

Lalu kami menyebrang jalan menuju Indomaret untuk beli minum karena air minum kami sudah habis. Setelah membayar, kami keluar lalu melewati jalan pintas yang melewati sebuah pesantren. Jalan pintasnya bukan langsung sampai rumah kami, tapi mempercepat perjalanan saja.

Sebelumnya aku mendapat SMS dari Suci. Dia bilang "Lagi apa?" sambil nyengir, aku bilang lagi jalan dari SMPN X ke rumah.

Diakhir jalan itu, kami sampai di jalan raya. Kami berjalan terus sambil ngobrol. Ketika melihat jam, waktu sudah menunjukan jam setengah lima dan kami baru seperempat jalan.

Kaki kami pegal dua-duanya. Tidak ada ayah Zahra dirumah dan tak ada papio juga dirumah. Ibu kami sama-sama gak bisa naik mobil atau motor. Tak ada angkot yang lewat. Huwaa...

Lalu tidak terasa kami sampai di belokan yang disebrangnya ada Alfamart. Itu berarti kami sudah mulai dekat (gak dekat-dekat banget, sih masih jauhlah tapi tetap saja sudah dekat). Aku sempat mampir dulu di Alfa, buat beli minum (lagi) karena minumku sudah habis.

Ketika kami melewati rumah salah satu teman kami ketika sekolah dasar yang dekat danau itu, kami ditanya seseorang dari sebrang jalan.

"Teman Tio, ya?" tanya seorang ibu.

"Iya." kata Zahra sedangkan aku mengangguk-ngangguk.
Lalu kami melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian kami sampai di perumahan yang dekat dengan sutet. Kami sudah mulai dekat.

Ketika melewati perumahan itu, kami ditanyai seseorang yang menggunakan helm. Orang itu memberhentikan motor lalu bertanya "Masih jauh gak, neng?" kami jawab saja sudah dekat. Lalu orang itu pergi. Datang lagi seorang, tapi bedanya dia tidak pakai helm dan tidak berhenti. Pertanyaannya sama dengan orang pertama, kami jawab sudah dekat lagi.

Dijalan, aku mendapat balasan SMS dari Suci. Dia bilang "Serius?" kujawab, iya udah dekat nih.

Kami pun melanjutkan perjalanan, hingga akhirnya sampai di depan rumah temannya Ashira! Ya, bukan rumah kami tapi rumah teman Ashira...

"Azizah..." aku memanggilnya (dasar iseng). Dan ternyata dia dengar, lalu membuka gerbang.

Azizah menyalami kami. "Minal aidin, kak." katanya. "Habis dari mana?".

"Jalan dari SMPN X." jawabku.

"Jalan kaki." tambah Zahra. Lalu kami melanjutkan perjalanan lagi.

Ketika sudah dekat, kami berlari-lari. Hingga tak disangka-sangka kami sampai di depan gang Zahra! maka berpisahlah kita berdua. 

Aku pun melanjutkan perjalanan sendiri. Hingga tak lama kemudian aku sampai di depan gang aku. Aku pun langsung berlari hingga akhirnya sampai depan rumah. Senang sekali, rasanya...

Kalau aku hitung, kami berjalan sekitar dua jam. Wah, lama banget ya. Itu aja udah sama kayak kalau aku mudik ke rumah nenek di Cianjur naik mobil (kalau ke rumah nenek biasanya tiga jam, jadi beda sejam doang).

Ketika bertemu mama, aku langsung cerita kalau aku jalan dari sekolah sampai rumah. Mamaku bilang.

"Kenapa gak telpon aja? nanti mama minta mba Heni jemput." aku nyengir, habisnya gak kepikiran, sih yang kepikiran papio lagi kerja jadi gak bisa jemput...

Nah, gara-gara kemarin jalan, kakiku sakit, alias kram (ketahuan jarang olahraga). Untungnya, hari ini libur karena guru-gurunya mau halal bihalal sama guru-guru sekolah lain, jadi aku bisa istirahat. Tapi, biar sakit rasanya happy-happy aja, tuh -_- 

Friday, May 24, 2013

Study Tour Kelas 6

Tanggal 23 May 2013, hari Kamis kemarin. Aku pergi study tour ke Kebun Raya Cibodas, Puncak, Bogor.
Pagi-pagi, jam 04.00 Aku bangun lalu segera minum susu, sarapan, dan mandi. Persiapan perginya telah kusiapkan sejak semalam. Tinggal bekal saja kusiapkan.

Sebelum berangkat aku memasukan nasi goreng dan botol minum ke tas, lalu minum Tolak Angin anak dan vitamin. Setelah memakai jaket, aku pamit, lalu berangkat diantar ayahku ke lapangan Seruni. Aku berangkat sekitar jam 06.00. Disana sudah ada teman-temanku, Suci, Lydia, Erika, Isna, Amel, dan lainnya.

suasana sebelum berangkat ke Cibodas

Lalu kami masuk bus Kramat Djati. Kursinya ada yang tiga dan ada yag dua, Aku mendapat kursi nomor 21, duduk berdua. Seharusnya aku duduk dengan Gabriella, temanku tapi aku malah duduk dengan Suci dan Zahra. Kenapa? Yah... sebenarnya Suci dan Zahra duduk dengan anak lelaki, tapi anak lelakinya gak mau jadi dia ambil kursi aku terus duduk dengan Adit, sahabatnya. Karena kursiku diambil, aku duduk dengan Suci dan Zahra. Kalau Gaby, aku gak tahu dia jadi duduk sama siapa.

Sebelum berangkat, kami diabsen dulu. Ada 3 anak yang tidak ikut, Ajis, Dimas, dan Noval. Kalau Dimas dan Noval, mereka sakit. Tapi Ajis, gak keterangan. Sama Bu Mariyam,  wali kelas 6, aku disuruh nelpon Ajis karena aku punya nomornya. Gara-gara nomornya gak kunamain, aku salah sambung ke anak kelas 5, teman Ashira, Annisa. Soalnya nomornya agak-agak mirip gitu. Alhasil, ya, Ajis gak ikut... tapi, toh dia SMS aku, gak bisa ikut.

Zahra lagi baca komik 'Hai, Miiko' karya Onno Eriko

                                       
Lama perjalanan sekitar 3 jam. Di perjalanan temanku ada yang mabuk, atau muntah-muntah... Hueee. Untung aku enggak muntah, cuma masuk angin aja.

Sampai di Cibodas, sebelum masuk gerbang, banyak penjual dan pedagang menjual oleh-oleh. Kue mochi, kalung, gelang, stroberi, rasberi, boneka, dan masih banyak lagi. Aku sedikit kesal dengan pedagang kaki limanya, udah banyak pedagangnya, maksa banget lagi! Mereka mengikuti kita sampai masuk gerbang masuk Kebun Raya Bogor. Aku gak beli, soalnya mahal!

                                       
                                       
Setelah masuk kami mencari tempat untuk piknik. Bersama guru-guru sekolahku kami berjalan bersama-sama.





Kanan-kiri : Bu Haji, Bu Safuroh, dan Bu Mariyam

Setelah kami mendapat tempat yang pas, aku, Zahra, dan Suci berfoto-foto sebelum makan siang.

                                       
                                       
                                      

Setelah kami foto-foto, kami pergi makan siang. PIKNIK.







Setelah kami makan-makan, kami foto-foto lagi...

                                       
                                       

Setelah kami foto-foto, kami tukeran kado. Kado dariku, pencil warna Faber-Castell, dan buku tulis kecil. Teman-temanku ada yang gak ikutan tukeran kado soalnya gak bawa kado, kasihan... Sebelum tukeran ada sambutan dulu dari kepala sekolah, Bu Idawati, S, Pd. dan Bu Mariyam, S, Pd.

Lalu setelah sambutan, kami tukeran kado dengan cara rebutan gitu...


                                       
Setelah tukeran kado, kita pergi ke musholla, buat sholat Zuhur. Air wudhunya dingin banget!




Setelah sholat, kami foto-foto dimana gunung Gede kelihatan. Wow!






                                       
Ketika mau melihat air terjun, eh, hujan! jadi kita naik mobil bus wisata Kebun Raya Cibodas deh, yah aku gak bisa main air padahal udah bawa ganti ...  








Setelah kita naik bis wisata, kami pulang, soalnya mau hujan lagi. tadinya rencannya pulang jam 04.00 sore, tapi karena mau hujan, kami terpaksa pulang padahal masih jam 02.00. Sebelum naik bis, kita belanja dulu. Aku beli gelang 2, dan rasberry, semuanya Rp. 15.000,00 lho, soalnya kutawar terus hehehe. Setelah naik bis kami pulang deh, eits, kami kecebak macet dulu, sampe dirumah pukul 07.00-an dan sedang mati lampu, hehehe, ngeselin ya? tapi aku tetap senang kok walaupun ngeselin terus sebentar doang study tournya.... ^_^